BI Dorong Penguatan Riset Hadapi Geopolitik, Iklim, dan Disrupsi Digital

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya penguatan ekosistem riset dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.
Hal itu disampaikan dalam Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-19 yang digelar di Jakarta.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menyebut ada tiga tren utama yang tengah dihadapi perekonomian dunia, yakni dinamika geopolitik dan geoekonomi, perubahan iklim, serta akselerasi digitalisasi dan disrupsi teknologi.
Baca Juga: Juda Agung Diangkat Jadi ADK OJK Ex Officio BI
“Tantangan ini menuntut kita semua, para peneliti ekonomi, pembuat kebijakan, dan saya sendiri sebagai gubernur bank sentral, untuk beradaptasi dan menyesuaikan kebijakan agar mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/9/2025).
Dirinya menegaskan, ketiga faktor tersebut harus diantisipasi melalui kebijakan adaptif dan sinergis yang selaras dengan agenda pembangunan nasional Astacita pemerintah. Hal ini dinilai penting agar Indonesia mampu menjaga resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Perry juga memaparkan lima langkah kebijakan yang telah ditempuh Bank Indonesia. Pertama, pengembangan bauran kebijakan bank sentral di tengah fragmentasi global.
Kedua, penguatan sistem pembayaran digital. Ketiga, kebijakan keuangan berkelanjutan dan inklusif. Keempat, koordinasi yang erat dengan pemerintah. Kelima, peningkatan kerja sama lintas negara.
Dalam forum tersebut, sejumlah akademisi turut menyoroti isu strategis, salah satunya perubahan iklim.
Mereka menekankan pentingnya kerja sama regional ASEAN+3 guna mempercepat transisi energi hijau. Fragmentasi geopolitik dinilai berpotensi menghambat upaya dekarbonisasi di kawasan.
Baca Juga: BI Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 Persen di 2025
Selain itu, diskusi akademik juga mengangkat bukti empiris mengenai dampak cuaca ekstrem terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor kunci, serta inflasi.
Para pakar menilai, kebijakan moneter harus mampu membedakan antara guncangan bersifat sementara dan yang persisten. Dukungan ruang fiskal dan perlindungan asuransi juga diperlukan untuk meredam risiko tersebut.
Dari sisi digitalisasi, perdebatan menyoroti transformasi peran bank sentral dalam era digital. Risiko dan peluang penggunaan stable coin, desain central bank digital currency (CBDC), serta penguatan kehati-hatian dan inklusi keuangan menjadi fokus utama.
Diskusi juga menekankan pentingnya koordinasi lintas negara dalam menetapkan standar kebijakan digital.
BMEB ke-19 menjadi wadah pertukaran gagasan dan hasil riset, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tahun ini, konferensi mengangkat tema “Geopolitics, Climate Risks, and Digitalisation: The Future of Central Banking”.
Dari 320 naskah lengkap yang masuk, sebanyak 34 hasil riset dari 12 negara terpilih setelah melalui proses peer review ketat.
Negara-negara tersebut meliputi Indonesia, Australia, Tiongkok, Prancis, India, Italia, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa BMEB semakin diakui sebagai forum riset internasional yang kredibel.
Penyelenggaraan BMEB, menurut BI, bukan hanya ruang dialog ilmiah, melainkan juga sarana penguatan kebijakan berbasis bukti bagi negara berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






