Rupiah Menguat, SBN Stabil di Tengah Turunnya Risiko Investasi Global

AKURAT.CO Pasar keuangan domestik menunjukkan sinyal stabilisasi seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah dan turunnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Penguatan ini terjadi sejalan dengan penurunan risiko investasi global dan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (DXY).
Nilai tukar rupiah dibuka menguat di level Rp16.270 per dolar AS pada Kamis (26/6), lebih baik dibandingkan posisi penutupan Rabu (25/6) yang berada di Rp16.285 per dolar AS.
Kinerja rupiah ini dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS yang turun ke posisi 97,68, memperkuat mata uang pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga: PALM Kantongi Restu Rights Issue dan Private Placement Senilai Triliunan Rupiah
Penguatan rupiah juga ditopang oleh aliran modal asing masuk ke instrumen keuangan domestik. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing bersih masuk senilai Rp2,83 triliun pada periode 23–25 Juni 2025.
Dana ini berasal dari akumulasi Rp1,29 triliun di SBN dan Rp3,68 triliun di SRBI, meskipun pasar saham mencatat arus keluar sebesar Rp2,14 triliun.
Di sisi lain, indikator kepercayaan investor terhadap Indonesia meningkat. Premi risiko investasi atau credit default swaps (CDS) tenor lima tahun Indonesia turun menjadi 78,05 basis poin, lebih rendah dari 81,06 basis poin pada 20 Juni.
Penurunan ini menandakan persepsi risiko terhadap Indonesia semakin membaik di mata investor global.
Baca Juga: Kebijakan Pertama Menkeu AS, Dollar Kuat Perang Dagang Berjalan
Imbal hasil SBN 10 tahun juga menunjukkan perbaikan dengan penurunan dari 6,67% menjadi 6,63%, yang menandakan peningkatan permintaan atas obligasi pemerintah. Untuk perbandingan, yield US Treasury 10 tahun turut turun ke level 4,291%, mendukung arus investasi ke pasar negara berkembang.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.
Situasi ini memberikan sinyal bahwa meski tantangan global masih membayangi, respons kebijakan domestik yang tepat dan koordinatif mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








