Trump Kembali Usulkan Tarif Tambahan 80% Jelang Pertemuan AS-China di Swiss

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengguncang hubungan dagang AS-China dengan mengusulkan tarif sebesar 80% untuk produk-produk asal China.
Usulan ini disampaikan menjelang pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng di Swiss.
Dalam unggahan di media sosial, Trump menulis, "Tarif 80% untuk China sepertinya tepat! Terserah Scott B," merujuk pada Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Ia juga menambahkan, "China seharusna membuka pasarnya untuk AS, sebab itu akan sangat baik untuk mereka! Pasar tertutup sudah tidak bekerja lagi"
Baca Juga: Prabowo Masih Menanti Pertemuan dengan Donald Trump, Bahas Kebijakan Tarif AS
Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Trump menjelang dimulainya negosiasi perdagangan antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Swiss.
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Georgetown, Prof. Laura Schechter, langkah Trump dapat dibaca sebagai taktik tawar-menawar.
“Trump paham betul bahwa perundingan yang sukses sering kali dimulai dengan tekanan maksimal. Ini gaya negosiasi khasnya memberi ancaman besar untuk kemudian menawar ke posisi kompromi,” ujar Schechter dikutip dari laman reuters.
Namun, pendekatan ini bukannya tanpa risiko. Menurut Mantan pejabat Departemen Perdagangan AS, Thomas F. McKinley, menilai bahwa usulan tersebut bisa menjadi bumerang jika China merasa didesak dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari meja perundingan.
“China bukan negara yang mudah ditekan. Mereka telah membuktikan selama beberapa tahun terakhir bahwa mereka mampu membalas tekanan dengan cara yang sistematis dan terukur," ucapnya.
Baca Juga: Efek Domino Tarif Trump, Inflasi Melejit, Ekspor-AS Diprediksi Anjlok Hingga 2026
Sejumlah analis memperkirakan bahwa usulan tarif ini, meski belum resmi menjadi kebijakan, akan dibahas secara serius dalam negosiasi. Menurut sumber yang dekat dengan Gedung Putih, tim Trump ingin mendorong China untuk menurunkan hambatan perdagangan non-tarif, terutama pada sektor pertanian dan manufaktur, serta membuka sektor jasa keuangan bagi perusahaan AS.
Di sisi lain, China diperkirakan akan menuntut pengurangan tarif sebagai imbal balik atas setiap langkah reformasi pasar domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








