Tunda Tarif Baru, Trump Kejar Kesepakatan dengan 17 Negara Mitra

AKURAT.CO Presiden Donald Trump mengambil langkah strategis dengan menunda pemberlakuan tarif tambahan kepada sebagian besar negara, kecuali China, dalam upaya meredam gejolak pasar keuangan sekaligus mendorong tercapainya kesepakatan dagang baru.
Langkah ini diambil setelah kebijakan tarif besar-besaran yang diberlakukan awal April mengguncang pasar keuangan AS. Di tengah kekhawatiran lonjakan harga konsumen dan risiko resesi, Trump berusaha menunjukkan bahwa pemerintahannya tetap membuka ruang dialog.
Dikutip dari laman ABC, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa AS kini bernegosiasi dengan 17 mitra dagang utama.
"Beberapa negosiasi berjalan baik, terutama dengan negara-negara Asia," ujarnya.
Baca Juga: Efek Domino Tarif Trump, Inflasi Melejit, Ekspor-AS Diprediksi Anjlok Hingga 2026
China tetap menjadi fokus utama. Dengan tarif AS terhadap barang-barang China yang kini mencapai 145%, Bessent memperkirakan Beijing tidak akan mampu bertahan lama tanpa mencari kesepakatan.
"Jika terjadi penghentian mendadak ekspor ke AS, ekonomi China akan terguncang," tegasnya.
Namun, upaya ini bukan tanpa tantangan. Beijing membantah pernyataan Trump bahwa kedua negara sedang berdialog aktif, mencerminkan ketegangan hubungan yang masih membara.
Sementara itu, hasil jajak pendapat CBS News menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat kepuasan publik terhadap kinerja ekonomi Trump, yang kini berada di angka 42%. Sebanyak 69% warga AS menilai pemerintah kurang fokus dalam menurunkan harga-harga.
Dalam konteks domestik, Trump juga berupaya memperpanjang dan memperluas pemangkasan pajak penghasilan yang disahkan pada masa jabatan pertamanya. Ia menjanjikan pembebasan pajak untuk tip pekerja, penghasilan Jaminan Sosial, serta pemangkasan tarif pajak korporasi.
Baca Juga: Tuai Kritik Pedas dari Pelaku Usaha, Tarif Trump Jadi Bumerang?
Penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, sebelumnya menyatakan bahwa tarif yang dikenakan dapat menghasilkan pendapatan besar untuk menutupi pemangkasan pajak tersebut. Namun, sejumlah ekonom skeptis, mengingat beban tarif kerap diteruskan kepada konsumen.
Trump kini menghadapi ujian besar: mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah pasar yang gelisah, mengamankan kesepakatan dagang untuk memperkuat posisinya di tahun-tahun politik mendatang, sambil menepati janji penurunan pajak kepada pemilih berpenghasilan menengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









