Ekonomi China Mulai Pulih, Tapi Pengangguran Justru Meningkat, Ada Apa?

AKURAT.CO Konsumsi masyarakat China menunjukkan tanda-tanda positif di awal tahun, dengan penjualan ritel naik 4% pada periode Januari-Februari lalu dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengacu kepada data dari Biro Statistik China, Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan 3,7% di Desember 2023 dan melebihi ekspektasi para analis. Meskipun begitu, di balik optimisme tersebut, tingkat pengangguran justru meningkat, menandakan bahwa pemulihan ekonomi masih belum merata.
Pertumbuhan konsumsi tersebut ditopang oleh berbagai kebijakan stimulus pemerintah yang bertujuan mendorong belanja masyarakat.
Menurut Kepala Ekonomi Bank of America Global Research untuk wilayah China, Helen Qiao menyebut data ritel berada dalam kisaran yang terbilang cukup bagus. Namun, dirinya menegaskan bahwa stimulus lebih lanjut mungkin masih diperlukan untuk mempertahankan momentum tersebut.
Baca Juga: China Pukul Balik AS! Swasembada Pangan Kian Kuat, Impor Pertanian Dibatasi
"Meski konsumsi tumbuh, para investot di pasar saham tampaknya belum terlalu terkesan. Sebab jika mengacu kepada Indeks CSI 300, yang melacak saham-saham terbesar di China, justru mengalami penurunan kecil. Sementara itu, obligasi pemerintah China menunjukkan kenaikan menandakan bahwa investor masih waspada terhadap risiko ekonomi," paparnya dikutip dari laman Reuters.
Oleh karena itu, lanjutnya, peningkatan konsumsi tersebut menjadi kunci bagi China untuk menghadapi tekanan dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang digagas oleh Presiden AS, Donald Trump.
"Sebab kebijakan tersebut mampu memberikan tekanan besar pada eksportir China, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian negara. Dengan mendorong belanja domestik, China berharap dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor dan menopang target pertumbuhan ekonomi sekitar 5% di tahun ini," katanya kembali.
Namun, tantangan tetap ada. Pengangguran yang meningkat menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Rusia Kian Getol Pakai Kripto Saat Transaksi Minyak dengan China dan India
"Oleh karena itu, pemerintah China perlu memastikan bahwa kebijakan stimulus tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang stabil," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








