Akurat

Imbas Perang Dagang Trump, Sri Mulyani: Tak Ada Lagi Konsep Teman

Demi Ermansyah | 13 Maret 2025, 17:37 WIB
Imbas Perang Dagang Trump, Sri Mulyani: Tak Ada Lagi Konsep Teman

AKURAT.CO Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti dampak kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (13/3/2025). Srimul menyebut langkah Trump sebagai war game di bidang ekonomi, mengingat kebijakan tarif ini terus memicu aksi balasan dari berbagai negara.

Seperti yang diketahui, Perang dagang bermula dari keputusan Trump pada awal Februari untuk mengenakan tarif bea masuk impor sebesar 25% terhadap China, Kanada, dan Meksiko.

Tak tinggal diam, China dan Kanada membalas dengan tarif serupa. Terbaru, pada 11 Maret 2025, Trump resmi memberlakukan tarif tambahan 25% untuk impor aluminium dan baja dari Kanada.

Langkah ini semakin memperburuk ketegangan perdagangan global dan menimbulkan efek domino bagi rantai pasok dunia.

Baca Juga: Waspadai Dampak Perang Dagang, Malaysia Pertahankan Suku Bunga 3%

Oleh karena itu, Sri Mulyani menegaskan bahwa Trump menargetkan negara-negara dengan surplus neraca perdagangan terhadap AS.

"Berdasarkan data, China berada di posisi pertama dengan surplus perdagangan mencapai USD319,1 miliar, diikuti oleh Meksiko dengan surplus USd175,9 miliar. Indonesia sendiri tercatat sebagai negara ke-15 dalam daftar ini, dengan surplus sebesar US$19,3 miliar pada 2024," paparnya.

Tentunya kondisi ini membuat Indonesia harus waspada terhadap potensi dampak ekonomi, tambah Srimul, terutama jika AS memperluas kebijakan tarif terhadap semua negara yang memiliki surplus perdagangan.

Dirinya menyebut bahwa Vietnam saat ini dikabarkan menjadi target tarif selanjutnya.

Jika tren ini berlanjut, Indonesia berisiko terkena kebijakan serupa, yang dapat meningkatkan biaya dalam rantai pasok manufaktur dan sektor digital.

Lebih jauh, perang dagang ini juga dapat memicu disrupsi rantai pasok global serta volatilitas harga komoditas, yang merupakan sumber utama penerimaan negara.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini pun menimbulkan pertanyaan besar bagi negara-negara di dunia mengenai arah kebijakan ekonomi global di masa depan.

“Selama ini, konsep friendshoring dianggap sebagai strategi yang aman, di mana negara-negara yang berteman dapat saling melindungi dalam perdagangan. Namun, kini tidak ada lagi konsep ‘teman’ dalam konteks ekonomi global. Jika sebuah negara dianggap merugikan AS, maka akan dikenakan kebijakan proteksionis,” ujar Sri Mulyani.

Meskipun demikian, Sri Mulyani melihat peluang bagi Indonesia untuk beradaptasi dengan perubahan peta perdagangan global.

Sebab dirinya menyoroti potensi relokasi industri akibat rekonfigurasi rantai pasok serta peluang kerja sama yang lebih erat antara negara-negara ASEAN dan BRICS sebagai alternatif menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.