Akurat

China Perketat Impor AS, Kedelai Diblokir, Produk Lain Kena Tarif 15%

Demi Ermansyah | 11 Maret 2025, 07:00 WIB
China Perketat Impor AS, Kedelai Diblokir, Produk Lain Kena Tarif 15%

AKURAT.CO Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas setelah Beijing resmi memberlakukan tarif impor hingga 15% terhadap berbagai produk pertanian AS mulai Senin (10/3/2025) lalu.

Kebijakan ini menandai strategi baru China yang tidak hanya menargetkan produk ekspor AS tetapi juga berupaya memperkuat ketahanan ekonominya sendiri.

Langkah tersebut dipandang sebagai respons langsung terhadap kebijakan pemerintahan Donald Trump yang sebelumnya menggandakan tarif umum terhadap seluruh ekspor China.

Namun, berbeda dengan pendekatan Washington yang menyasar hampir seluruh lini perdagangan, Beijing tampaknya lebih selektif. China menargetkan produk-produk yang bisa mereka peroleh dari negara lain, sehingga dampaknya terhadap ekonomi domestik bisa diminimalkan.

Baca Juga: Eksportir Kanada Terancam, Tarif Balasan China Jadi Pukulan Berat

Target Produk yang Tepat Sasaran

Mengutip dari laman reuters, produk-produk yang dikenakan tarif kali ini meliputi daging sapi, unggas, biji-bijian, serta berbagai hasil pertanian lainnya. Tidak hanya itu, pemerintah China juga menghentikan impor kedelai dari tiga perusahaan AS dan menangguhkan pembelian kayu gelondongan asal Amerika.

Kebijakan ini dinilai sebagai pukulan besar bagi petani dan eksportir AS, terutama di negara bagian yang selama ini mengandalkan pasar China untuk menyalurkan hasil pertanian mereka.

Kedelai, misalnya, merupakan salah satu produk ekspor utama AS ke China dengan nilai hampir USD13 miliar pada 2024. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, China telah mengurangi ketergantungan pada AS dan beralih ke pemasok alternatif seperti Brasil.

Menurut analis perdagangan internasional, strategi ini memungkinkan Beijing untuk menekan AS tanpa harus merugikan pasar domestiknya sendiri.

"China telah membangun rantai pasokan alternatif selama bertahun-tahun, dan sekarang mereka menggunakan strategi ini untuk melindungi ekonomi mereka dari dampak negatif perang dagang," kata seorang ekonom dari Shanghai Institute of International Trade.

Kepercayaan Diri Pemerintah China

Pejabat tinggi China tampaknya yakin bahwa kebijakan ini tidak akan mengguncang stabilitas ekonomi mereka.

Menurut Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, menegaskan bahwa pemerintah pusat memiliki berbagai instrumen kebijakan fiskal untuk mengatasi tantangan ekonomi domestik maupun global.

Selain itu, Beijing juga berusaha menghindari eskalasi lebih lanjut. Hingga kini, Trump menyatakan kesediaannya untuk berdialog dengan Presiden Xi Jinping, tetapi belum ada pertemuan resmi yang dijadwalkan. Ini menunjukkan bahwa meskipun China mengambil langkah tegas, mereka tetap membuka ruang negosiasi.

Tentunya kebijakan tarif tersebut juga bertepatan dengan pertemuan Kongres Rakyat Nasional di Beijing, di mana Perdana Menteri Li Qiang menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5%.

Baca Juga: Tuai Karma! China Siap Berikan Tarif Hingga 100 Persen ke Produk Milik Kanada

Angka ini dianggap ambisius mengingat berbagai tantangan yang dihadapi China, termasuk ketidakpastian perdagangan, krisis properti yang berkepanjangan, dan ancaman deflasi.

Pada Minggu (9/3/2025) lalu mengacu kepada data resmi menunjukkan bahwa inflasi China turun lebih dari perkiraan, bahkan memasuki zona negatif untuk pertama kalinya dalam 13 bulan terakhir.

Sedangkan indeks harga konsumen inti (IHK inti), yang tidak mencakup harga makanan dan energi, mencatat penurunan 0,1% penurunan pertama sejak 2021 dan hanya yang kedua dalam lebih dari 15 tahun terakhir.

Sebagai respons, pemerintah meningkatkan defisit anggaran umum ke tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga dekade untuk mendorong belanja domestik demi menjaga stabilitas ekonomi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.