AKURAT.CO Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2025, yang menandakan penurunan harga barang dan jasa secara umum, baik bulanan maupun tahunan.
Lantas, apa artinya dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia?
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan angka masing-masing 0,48 persen dan 0,09 persen.
Ini menjadi deflasi berturut-turut selama dua bulan setelah Januari 2025 yang tercatat sebesar 0,76 persen, dan deflasi tahunan pada Februari juga merupakan yang pertama kali terjadi dalam 25 tahun terakhir.
Baca Juga: Ada Diskon Tarif Listrik, RI Catatkan Deflasi 0,09 Persen di Februari 2025
Berikut penjelasan mengenai definisi deflasi dan dampaknya, dilansir dari berbagai sumber, Selasa (4/3/2025).
Apa Itu Deflasi?
Deflasi merujuk pada peningkatan nilai mata uang yang terjadi ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat berkurang, yang bertujuan mengembalikan daya beli uang yang menurun.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan, deflasi adalah kondisi dimana daya beli uang meningkat karena jumlah uang yang beredar lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia.
Fenomena ini berlawanan dengan inflasi, di mana harga barang dan jasa cenderung naik.
Meskipun deflasi dapat menguntungkan konsumen dalam jangka pendek karena harga barang lebih murah, kondisi ini sering kali menandakan masalah serius dalam perekonomian, seperti turunnya permintaan dan investasi.
Baca Juga: RI Bakal Catatkan Produksi Beras Tertinggi dalam 7 Tahun Terakhir
Hal ini dapat berdampak negatif pada bisnis, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang mungkin terpaksa tutup akibat pendapatan yang berkurang.
Jika deflasi berlanjut tanpa intervensi yang tepat, angka pengangguran dapat meningkat dan beban utang pun dapat menjadi lebih berat.
Penyebab Deflasi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan deflasi antara lain:
1. Peredaran Uang Menurun
Penurunan jumlah uang yang beredar, sering kali karena kebijakan suku bunga tinggi oleh bank, membuat masyarakat lebih cenderung menabung daripada menghabiskan uang mereka.
2. Permintaan Menurun
Baca Juga: Transformasi Modest Fashion RI Lewat MUFFEST Road to IN2MOTIONFEST 2025
Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, permintaan terhadap barang dan jasa turun, yang membuat produsen menurunkan harga produk mereka.
3. Kelebihan Produksi
Jika pasokan barang lebih banyak dari permintaan, harga barang akan turun untuk mengurangi persediaan yang menumpuk.
4. Kebijakan Moneter Ketat
Kebijakan moneter yang terlalu ketat dari pemerintah atau bank sentral dapat menekan perekonomian, berpotensi menciptakan deflasi.
Dampak Deflasi
Deflasi memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, harga barang menjadi lebih murah, mata uang menguat, dan kesadaran untuk menabung meningkat.
Baca Juga: RI Tawarkan Investasi Energi Terbarukan ke 35 Delegasi Perusahaan Prancis
Namun, dampak negatifnya lebih besar, termasuk penurunan pendapatan usaha, PHK besar-besaran, peningkatan pengangguran, dan resesi ekonomi.
Cara Mengatasi Deflasi
Beberapa langkah untuk mengatasi deflasi meliputi:
1. Kebijakan Moneter
Pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga untuk meningkatkan peredaran uang.
2. Kebijakan Fiskal
Pemerintah dapat meningkatkan pengeluaran negara untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
3. Kebijakan Non Moneter
Meningkatkan upah minimum agar daya beli masyarakat naik, yang pada gilirannya meningkatkan konsumsi dan permintaan barang.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan deflasi bisa diatasi dan perekonomian kembali stabil.
Baca Juga: Usut Skandal Pemilihan Ketua DPD RI, KPK: Tunggu Saja
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar










