Akurat

RI Alami Deflasi, Apa Arti dan Dampaknya?

Kosim Rahman | 4 Maret 2025, 19:34 WIB
RI Alami Deflasi, Apa Arti dan Dampaknya?

AKURAT.CO Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2025, yang menandakan penurunan harga barang dan jasa secara umum, baik bulanan maupun tahunan. 

Lantas, apa artinya dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan angka masing-masing 0,48 persen dan 0,09 persen.

Ini menjadi deflasi berturut-turut selama dua bulan setelah Januari 2025 yang tercatat sebesar 0,76 persen, dan deflasi tahunan pada Februari juga merupakan yang pertama kali terjadi dalam 25 tahun terakhir.

Baca Juga: Ada Diskon Tarif Listrik, RI Catatkan Deflasi 0,09 Persen di Februari 2025

Berikut penjelasan mengenai definisi deflasi dan dampaknya, dilansir dari berbagai sumber, Selasa (4/3/2025).

Apa Itu Deflasi?

Deflasi merujuk pada peningkatan nilai mata uang yang terjadi ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat berkurang, yang bertujuan mengembalikan daya beli uang yang menurun.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan, deflasi adalah kondisi dimana daya beli uang meningkat karena jumlah uang yang beredar lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia.

Fenomena ini berlawanan dengan inflasi, di mana harga barang dan jasa cenderung naik.

Meskipun deflasi dapat menguntungkan konsumen dalam jangka pendek karena harga barang lebih murah, kondisi ini sering kali menandakan masalah serius dalam perekonomian, seperti turunnya permintaan dan investasi.

Baca Juga: RI Bakal Catatkan Produksi Beras Tertinggi dalam 7 Tahun Terakhir

Hal ini dapat berdampak negatif pada bisnis, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang mungkin terpaksa tutup akibat pendapatan yang berkurang.

Jika deflasi berlanjut tanpa intervensi yang tepat, angka pengangguran dapat meningkat dan beban utang pun dapat menjadi lebih berat.

Penyebab Deflasi

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan deflasi antara lain:

1. Peredaran Uang Menurun

Penurunan jumlah uang yang beredar, sering kali karena kebijakan suku bunga tinggi oleh bank, membuat masyarakat lebih cenderung menabung daripada menghabiskan uang mereka.

2. Permintaan Menurun

Baca Juga: Transformasi Modest Fashion RI Lewat MUFFEST Road to IN2MOTIONFEST 2025

Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, permintaan terhadap barang dan jasa turun, yang membuat produsen menurunkan harga produk mereka.

3. Kelebihan Produksi

Jika pasokan barang lebih banyak dari permintaan, harga barang akan turun untuk mengurangi persediaan yang menumpuk.

4. Kebijakan Moneter Ketat

Kebijakan moneter yang terlalu ketat dari pemerintah atau bank sentral dapat menekan perekonomian, berpotensi menciptakan deflasi.

Dampak Deflasi

Deflasi memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, harga barang menjadi lebih murah, mata uang menguat, dan kesadaran untuk menabung meningkat.

Baca Juga: RI Tawarkan Investasi Energi Terbarukan ke 35 Delegasi Perusahaan Prancis

Namun, dampak negatifnya lebih besar, termasuk penurunan pendapatan usaha, PHK besar-besaran, peningkatan pengangguran, dan resesi ekonomi.

Cara Mengatasi Deflasi

Beberapa langkah untuk mengatasi deflasi meliputi:

1. Kebijakan Moneter

Pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga untuk meningkatkan peredaran uang.

2. Kebijakan Fiskal

Pemerintah dapat meningkatkan pengeluaran negara untuk mempercepat pemulihan ekonomi.

3. Kebijakan Non Moneter

Meningkatkan upah minimum agar daya beli masyarakat naik, yang pada gilirannya meningkatkan konsumsi dan permintaan barang.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan deflasi bisa diatasi dan perekonomian kembali stabil.

Baca Juga: Usut Skandal Pemilihan Ketua DPD RI, KPK: Tunggu Saja

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.