AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian perdagangan global, Jepang dan Korea Selatan semakin memperkuat kerja sama mereka, khususnya dalam Kemitraan Keamanan Mineral.
Langkah ini diambil untuk memastikan rantai pasokan mineral tetap aman dan stabil di tengah kebijakan proteksionisme yang semakin ketat dari Amerika Serikat (AS).
Dalam Konferensi Keamanan Munich pada 15 Februari lalu, Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Tae-yul.
Mereka membahas berbagai aspek kerja sama bilateral, termasuk strategi menghadapi kebijakan tarif resiprokal yang direncanakan AS.
"Kami ingin memastikan bahwa Jepang dan Korea Selatan tetap memiliki akses yang stabil terhadap mineral-mineral penting yang dibutuhkan dalam industri teknologi dan manufaktur," ujar Iwaya dikutip dari Reuters, Minggu (16/2/2025).
Seperti yang diketahui, keamanan pasokan mineral semakin menjadi isu krusial dalam perdagangan global.
Banyak negara, termasuk Jepang dan Korea Selatan, sangat bergantung pada impor mineral langka seperti lithium, titanium, dan grafit, yang digunakan dalam produksi baterai, semikonduktor, serta perangkat teknologi tinggi lainnya.
Dengan kebijakan proteksionis AS yang semakin ketat, Jepang dan Korea Selatan harus mencari cara untuk mengamankan pasokan mereka sendiri.
Salah satu solusi yang mereka bahas dalam pertemuan ini adalah meningkatkan kerja sama dalam eksplorasi dan pemurnian mineral, serta memperluas jaringan pemasok di luar AS dan China.
Selain fokus pada kerja sama mineral, pertemuan tersebut juga membahas ancaman kebijakan perdagangan AS terhadap kedua negara.
Jepang dan Korea Selatan sama-sama berusaha mencari solusi agar tidak terkena tarif tinggi yang bisa menghambat ekspor mereka ke AS.
"Kami berharap kerja sama trilateral antara Jepang, AS, dan Korea Selatan tetap bisa berjalan dengan baik, tanpa ada hambatan dari kebijakan tarif baru," ungkap Cho Tae-yul.
Meskipun AS merupakan salah satu mitra dagang utama bagi Jepang dan Korea Selatan, kebijakan tarif yang diterapkan bisa memaksa kedua negara mencari alternatif lain.
Salah satunya adalah memperkuat hubungan dengan negara-negara G7 dan Uni Eropa dalam mencari pasar baru untuk produk-produk mereka.
Tak sampai disitu saja, dalam konferensi Munich, Menteri Luar Negeri G7 juga menegaskan dukungan mereka terhadap stabilitas perdagangan global.
Mereka berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dalam keamanan mineral serta mencari solusi agar kebijakan perdagangan tidak terlalu membebani ekonomi negara-negara mitra.
Selain itu, isu denuklirisasi Korea Utara juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan ini.
Jepang dan Korea Selatan sepakat bahwa upaya perdamaian di kawasan Asia Timur tetap harus menjadi prioritas utama, di samping tantangan ekonomi yang mereka hadapi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










