AKURAT.CO Perlambatan ekonomi China terus menjadi topik perbincangan penting di kalangan ekonom global. Bank Dunia memperkirakan bahwa melemahnya ekonomi China pada 2025 akan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia.
Meskipun pemerintah China baru-baru ini meluncurkan stimulus, proyeksi ekspansi ekonominya terus turun, yang dapat mempengaruhi stabilitas regional. Namun, di tengah ketidakpastian ini, Indonesia diprediksi mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.
Bagaimana Indonesia bisa bertahan di tengah perlambatan ekonomi China yang telah menjadi kekuatan ekonomi dominan di kawasan Asia Timur selama tiga dekade? Dilansir Bloomber, China telah lama menjadi motor penggerak ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi China memberikan dampak positif pada negara-negara tetangganya melalui investasi dan perdagangan. Namun, dengan ekonomi China yang diprediksi melambat hingga 4,3% pada 2025, wilayah Asia Timur dan Pasifik diperkirakan juga akan mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 4,4%.
Baca Juga: Ekonomi Melambat, China Didorong Genjot Belanja Publik
Melambatnya ekonomi China ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk lemahnya belanja konsumen dan sektor properti yang goyah. Meskipun pemerintah China telah meluncurkan stimulus, termasuk kebijakan moneter seperti pemotongan suku bunga, dampak jangka panjang masih belum pasti.
"Indonesia, sebagai bagian dari kawasan Asia Timur, tentu akan merasakan dampak dari melemahnya ekonomi China. China adalah mitra dagang utama Indonesia, terutama dalam hal ekspor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan produk mineral lainnya. Penurunan permintaan dari China bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia," tulis Bloomberg dikutip Selasa (8/10/2024).
Namun, di sisi lain, pergeseran perdagangan global akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan China telah membuka peluang bagi negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia untuk memperluas perannya dalam rantai pasokan global. Indonesia bisa memanfaatkan momen ini untuk menguatkan posisi sebagai hub manufaktur alternatif di kawasan.
Indonesia Perlu Pertumbuhan yang Lebih Tinggi dari Era Pandemi
Bank Dunia menunjukkan optimisme terhadap ekonomi Indonesia, memprediksi bahwa pertumbuhan Indonesia pada 2024 dan 2025 akan masing-masing mencapai 5% dan 5,1%. Ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di angka 4,9% untuk 2024. Salah satu alasan optimisme ini adalah daya tahan ekonomi Indonesia pasca-pandemi dan kemampuannya untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Indonesia memiliki potensi untuk terus tumbuh berkat sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta komitmen pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur. Selain itu, reformasi struktural di sektor fiskal dan perbaikan iklim investasi menjadi faktor kunci yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Selain tantangan dari perlambatan ekonomi China, ketidakpastian kebijakan global, seperti perubahan peraturan perdagangan internasional dan konflik geopolitik, juga berpotensi memengaruhi ekonomi kawasan. Namun, Indonesia telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi fluktuasi global, terutama dengan kebijakan diversifikasi ekonomi dan peningkatan daya saing industri dalam negeri.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong peningkatan investasi asing di sektor-sektor strategis, seperti energi terbarukan dan teknologi digital, yang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah ke China.
Meskipun ekonomi China diperkirakan melambat dan memberikan tekanan pada negara-negara di Asia Timur dan Pasifik, Indonesia diproyeksikan tetap mampu tumbuh dengan stabil. Kombinasi antara reformasi struktural, diversifikasi ekonomi, dan peluang dari pergeseran perdagangan global membuat Indonesia tetap berada di jalur pertumbuhan yang positif.
Dalam menghadapi tantangan global ini, Indonesia perlu memperkuat sektor-sektor strategis yang dapat meningkatkan daya saing di pasar internasional. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhannya dan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih mandiri di kawasan, meskipun ketidakpastian global terus membayangi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 4Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









