Sri Mulyani Tegaskan Tren Deflasi Bukan Sinyal Negatif
Demi Ermansyah | 4 Oktober 2024, 17:45 WIB

AKURAT.CO Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa tren deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut bukanlah sinyal negatif bagi perekonomian nasional.
Di mana menurutnya, deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga pada komponen harga bergejolak (volatile food), khususnya komoditas pangan. Oleh karena itu harga pangan yang stabil atau bahkan menurun merupakan perkembangan positif yang sangat penting, terutama bagi masyarakat dengan daya beli menengah ke bawah.
"Deflasi lima bulan terakhir terutama dikontribusikan oleh penurunan harga pangan. Ini adalah perkembangan positif karena baik untuk daya beli masyarakat," ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (4/10/2024).
Baca Juga: Deflasi Beruntun, BI Imbau Masyarakat Untuk Belanja
Penurunan harga bahan makanan, tambahnya, dapat membantu masyarakat menjangkau kebutuhan pokok dengan lebih mudah. Sebab hal ini sangat penting bagi kelompok masyarakat yang pengeluaran utamanya adalah untuk kebutuhan pangan.
Penurunan harga bahan makanan, tambahnya, dapat membantu masyarakat menjangkau kebutuhan pokok dengan lebih mudah. Sebab hal ini sangat penting bagi kelompok masyarakat yang pengeluaran utamanya adalah untuk kebutuhan pangan.
"Tentunya dengan harga pangan yang menurun, daya beli masyarakat dapat lebih terjaga, sehingga konsumsi tidak terdampak. Lebih jauh lagi, stabilitas harga pangan ini juga diharapkan bisa menjaga keseimbangan ekonomi nasional," paparnya.
Meskipun tren deflasi berlangsung selama lima bulan terakhir, Sri Mulyani menekankan bahwa ini adalah dampak dari stabilitas harga pangan, bukan indikasi penurunan daya beli masyarakat.
Sebagai Informasi, sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia kembali mencatatkan deflasi 5 bulan secara beruntun, yakni sebesar 0,12% secara bulanan pada September 2024. Menurut Plt Kepala BPS, Amalia Widyasanti, secara historis, deflasi September 2024 merupakan deflasi terdalam dibandingkan bulan yang sama dalam 5 tahun terakhir.
Dari sisi komoditas penyumbang deflasi, dalam 5 bulan terakhir komoditas daging ayam ras masuk dalam 5 besar komoditas utama yang menyumbang andil deflasi. Daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen pada September 2024.
Deflasi yang terjadi dalam 5 bulan terakhir terlihat secara umum disumbang oleh penurunan harga komoditas bergejolak dari perspektif kelompok makanan, minuman dan tembakau dan kelompok ini ternyata kembali menjadi penyumbang utama deflasi pada September 2024 dan deflasi pada kelompok ini terjadi berlangsung selama 6 bulan berturut-turut sejak april 2024.
"tingkat deflasi September 2024 untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau ini merupakan deflasi september terdalam sepanjang 2020 hingga 2024 dengan tingkat deflasi sebesar 0,59 persen dan andil deflasi sebesar 0,17 persen," kata Amalia dalam konferensi pers bersama media di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Dari sisi komoditas penyumbang deflasi, dalam 5 bulan terakhir komoditas daging ayam ras masuk dalam 5 besar komoditas utama yang menyumbang andil deflasi. Daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen pada September 2024.
Deflasi yang terjadi dalam 5 bulan terakhir terlihat secara umum disumbang oleh penurunan harga komoditas bergejolak dari perspektif kelompok makanan, minuman dan tembakau dan kelompok ini ternyata kembali menjadi penyumbang utama deflasi pada September 2024 dan deflasi pada kelompok ini terjadi berlangsung selama 6 bulan berturut-turut sejak april 2024.
"tingkat deflasi September 2024 untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau ini merupakan deflasi september terdalam sepanjang 2020 hingga 2024 dengan tingkat deflasi sebesar 0,59 persen dan andil deflasi sebesar 0,17 persen," kata Amalia dalam konferensi pers bersama media di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









