AS Disebut Hambat Pinjaman USD50 Miliar G7 ke Ukraina

AKURAT.CO Proses penyelesaian rencana G7 untuk memberikan pinjaman sebesar USD50 miliar kepada Ukraina mengalami kendala, dengan Amerika Serikat (AS) disebut-sebut sebagai penyebab utamanya. Pinjaman ini rencananya akan dilunasi melalui bunga dari aset Rusia yang dibekukan di lembaga-lembaga keuangan Barat, namun kabar terbaru mengindikasikan bahwa rencana tersebut mengalami penundaan.
Menurut laporan Euractiv, AS menjadi penghambat utama karena kekhawatiran mengenai kelangsungan pembekuan aset. "Sementara AS ingin memastikan aset Rusia tetap dibekukan, ada kemungkinan ketidaksepakatan dalam blok Uni Eropa yang memerlukan persetujuan bulat dari semua 27 negara anggotanya," ujar sumber diplomatik yang dikutip Sabtu (31/8/2024).
Pada awal perang Ukraina di tahun 2022, Uni Eropa dan AS membekukan sekitar USD300 miliar aset Rusia. Sejak saat itu, negara-negara Barat mempertimbangkan penggunaan dana tersebut untuk membantu Ukraina. Setelah gagal menyetujui rencana penyitaan langsung, G7 memutuskan pada bulan Juni untuk memberikan pinjaman tersebut dengan pembayaran utangnya berasal dari bunga aset yang dibekukan.
Baca Juga: Rusia Tegaskan Keterlibatan AS dalam Serangan Ukraina di Kursk sebagai 'Fakta yang Jelas'
Namun, tantangan muncul karena aturan Uni Eropa mengharuskan pembaruan sanksi setiap enam bulan dan dapat menghadapi kemungkinan veto dari negara-negara anggota, seperti Hongaria yang saat ini memegang kepresidenan Uni Eropa. “AS menyarankan agar mekanisme sanksi diperpanjang menjadi 12 bulan atau lebih untuk memastikan ketersediaan dana," jelas sumber yang sama.
Sementara itu, duta besar Uni Eropa telah mendiskusikan berbagai proposal untuk meredakan kekhawatiran AS, termasuk memperpanjang masa pembaruan sanksi hingga tiga tahun atau bahkan tanpa batas waktu.
Namun, belum ada kemajuan signifikan terkait hal ini. Ukraina, di sisi lain, semakin mendesak untuk mendapatkan dana yang dijanjikan. Perdana Menteri Denis Shmigal menegaskan pentingnya dana tersebut diterima pada akhir tahun dan berharap pinjaman itu bebas bunga serta tanpa syarat.
Di Moskow, pembekuan aset dianggap sebagai tindakan "pencurian" yang dapat menciptakan preseden berbahaya dan merusak kredibilitas sistem keuangan Barat. Diperkirakan, dana yang dibekukan menghasilkan bunga sekitar USD3 miliar per tahun, dan pinjaman USD50 miliar ini akan dilunasi melalui pendapatan bunga tersebut selama 10 tahun atau lebih, atau hingga Rusia membayar ganti rugi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo







