Sikap Dovish The Fed Dikritik, Ekonom Wall Street: Terlalu Lama

AKURAT.CO Penurunan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) nampaknya masih belum mendapatkan benang merahnya. Keragu-raguan dan sinyal kehati-hatian atau dovish yang dikeluarkan oleh The Fed tersebut pada akhirnya membuat para ekonom dunia khususnya di Wall Street mulai meradang akibat sikap 'labil' yang dialami oleh The Fed saat ini.
Bahkan tidak sedikit dari para ekonom Wall Street memperingatkan bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terlalu lama menunda pembalikan arah kebijakan setelah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam dua dekade.
Sebab, data inflasi yang moderat dalam tiga bulan terakhir ini ditambah dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan peningkatan angka pengangguran, mendorong seruan agar bank sentral untuk segera menurunkan suku bunga pada pertemuan kebijakan dua minggu mendatang.
Namun sayangnya, langkah tersebut tampaknya sangat tidak mungkin terjadi. sebab Gubernur The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa dirinya tidak akan memberikan petunjuk tentang kapan finalisasi waktu penurunan suku bunga, dan sebagian besar rekan-rekannya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan tampaknya masih ragu tentang perlunya tindakan segera.
Dilansir Bloomberg, menurut sejumlah tokoh terkemuka termasuk Kepala Ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius menjelaskan bahwa dirinya melihat alasan kuat kenapa penentuan penurunan suku bunga akan tercapai pada saat pertemuan akhir Juli nanti.
"Jika alasan untuk penurunan sudah jelas, mengapa harus menunggu tujuh minggu lagi sebelum melakukannya?" ucapnya.
Baca Juga: Suku Bunga The Fed Diramal Turun di November 2024, Perry: Rupiah Akan Semakin Menguat dan Stabil
Sebelumnya, FOMC memperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil pada bulan Juli untuk pertemuan kedelapan berturut-turut, menandai satu tahun sejak pertama kali mencapai kisaran target 5,25% hingga 5,5% saat ini. Investor bertaruh pada setidaknya dua penurunan suku bunga sebelum akhir 2024, dimulai pada September, menurut kontrak berjangka.
Powell pada Senin mengatakan data inflasi baru-baru ini sedikit menambah keyakinan bahwa inflasi sedang menuju target 2% bank sentral. Para pembuat kebijakan sekarang fokus pada kedua mandat The Fed mengenai lapangan kerja penuh dan stabilitas harga. Namun, dia juga mengisyaratkan perlunya lebih banyak bukti sebelum memulai penurunan suku bunga.
Alasan untuk pelonggaran sekarang didasarkan pada gagasan bahwa penyesuaian suku bunga membutuhkan waktu, mungkin satu tahun atau lebih, untuk berdampak pada ekonomi, sehingga pembuat kebijakan perlu mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penurunan.
Pedoman kebijakan moneter seperti Taylor Rule yang banyak diikuti menunjukkan bahwa suku bunga saat ini seharusnya sudah sekitar 4%, atau lebih dari satu poin lebih rendah daripada sekarang, kata Hatzius.
Seruan untuk penurunan suku bunga pada bulan Juli meningkat pesat selama satu setengah minggu terakhir dengan dirilisnya dua laporan bulanan utama tentang ketenagakerjaan dan inflasi.
Sementara tingkat pengangguran tetap relatif rendah di 4,1%, tingkat tersebut sekarang sedikit meningkat dalam tiga bulan terakhir. Angka tersebut naik dari level terendah 3,4% pada awal 2023, menimbulkan kekhawatiran tentang risiko resesi.
Inflasi, sementara itu, tidak terlalu tinggi pada kuartal kedua setelah kenaikan tak terduga dalam tiga bulan pertama tahun 2024. Indeks Harga Konsumen (IHK) inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan energi, hanya naik 0,1% di bulan Juni, menandai kenaikan bulanan terkecil sejak Agustus 2021. Inflasi sewa khususnya menunjukkan moderasi yang sudah lama ditunggu, tren yang diperkirakan akan terus berlanjut.
"Menunggu terlalu lama berisiko mencapai puncak pengangguran yang lebih tinggi dan tidak memberikan dampak tambahan terhadap inflasi," kata Drew Matus, Kepala Strategi Pasar di MetLife Investment Management.
Sejak rilis angka inflasi terbaru pada 11 Juli, dua pembuat kebijakan, Gubernur The Fed Chicago Austan Goolsbee dan Mary Daly dari San Francisco, telah menyoroti bahwa The Fed sudah dekat dengan keyakinan yang dibutuhkan untuk menurunkan suku bunga.
Namun, pihak lain waspada jika mereka akan bergerak terlalu cepat. Ketika terakhir bertemu pada bulan Juni, para pejabat menerbitkan proyeksi yang menunjukkan empat orang berpendapat tidak boleh ada penurunan suku bunga tahun ini, sementara tujuh orang memperkirakan satu penurunan dan delapan orang memperkirakan dua kali penurunan.
"Menurunkan suku bunga di bulan Juli lebih merupakan perubahan mendadak daripada yang biasa dilakukan FOMC. Menunggu satu pertemuan lagi untuk bergerak "lebih banyak tentang manajemen komite dan mendapatkan sedikit lebih banyak data," ujar Julia Coronado, Pendiri MacroPolicy Perspectives LLC.
Sebaliknya, FOMC pada bulan Juli dapat mengubah pernyataannya untuk menyoroti peningkatan data inflasi dan Powell dapat menggunakan pidatonya di konferensi The Fed Kansas City di Jackson Hole, Wyoming, pada akhir Agustus untuk menyampaikan pesan yang mengisyaratkan langkah di bulan September.
Alasan untuk menunggu adalah penurunan inflasi yang tidak mulus, sebagaimana dibuktikan oleh data kuartal pertama. Para anggota komite yang agresif khawatir bahwa kebangkitan kembali inflasi dapat memicu kenaikan ekspektasi inflasi, sehingga semakin sulit untuk mencapai target 2%.
"Sudah ada beberapa contoh orang yang menyatakan kemenangan dalam pertempuran ini sebelum waktunya. Ada alasan kuat untuk menunggu sampai pertemuan bulan September," kata Ekonom Senior Wells Fargo & Co, Michael Pugliese.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang









