Rupiah Terus Ambruk Tembus Rp16.450, Ini Yang Sebaiknya Dilakukan

AKURAT.CO Rupiah ditutup kembali merosot ke level Rp16.450 atau turun 20 poin pada perdagangan Jumat, 21 Juni 2024. Rupiah terpantau terus terperosok usai BI rate ditahan. Kemarin, rupiah anjlok 65 poin ke level Rp16.430.
Lantas apa yang perlu dilakukan untuk mengerem depresiasi rupiah ke depan? Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan pemerintah dan BI selayaknya menjaga stabilitas rupiah berbasis kekuatan fundamental perekonomian Indonesia. Hal itu yakni surplus neraca perdagangan, bukan lewat intervensi valuta asing (valas) dengan cadangan devisa yang terbatas atau menaikkan suku bunga domestik.
"Sebenarnya rupiah tidak perlu mengalami pelemahan yang panjang jika pasokan dolar dari surplus neraca perdagangan mengalir ke pasar. Pelemahan rupiah, merupakan anomali karena hingga Mei 2024 Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan yang cukup baik," ujarnya kepada Akurat.co, Jumat (21/6/2024).
Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Penguatan Ekonomi AS Tekan Rupiah
Sependapat, Chief Economist PermataBank, Josua Pardede menilai dengan fundamental ekonomi yang relatif solid seperti terjaganya inflasi, keseimbangan eksternal serta prospek pertumbuhan ekonomi, maka ruang apresiasi rupiah dan pasar keuangan domestik ke depan akan lebih terbuka.
"Solusi jangka pendek ialah BI terus intervensi di pasar valas. Namun dalam jangka menengah, BI perlu menggalakkan lagi kebijakan DHE dan pendalaman pasar keuangan. Sementara untuk jangka panjang, diversifikasi komoditas ekspor agar tak didominasi yang harganya fluktuatif, diversifikasi tujan ekspor, substitusi impor, meningkatkan industri pariwisata serta meningkatkan FDI agar ketergantungan ke hot money atau investasi protofolio asing menurun," paparnya kepada Akurat.co.
Ditambahkan Josua, pelemaha rupiah sendiri menekan margin keuntungan perusahaan atau sektor ekonomi yang mengimpor bahan baku karena biaya terkerek. Di sisi lain, emiten atau perusahaan yang berorientasi ekspor akan untung karena produk mereka menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
"Pelemahan rupiah juga akan mendorong mported inflation yang akhirnya mempengaruhi inflasi nasional dan daya beli konsumen serta kinerja emiten atau perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI," imbuhya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








