AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 23 poin ke level Rp16.263 pada perdagangan Kamis, 6 Juni 2024 di tengah berbagai data ekonomi AS yang lemah. Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakn rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal.
Dari eksternal, data ketenagakerjaan ADP yang lemah menunjukkan penurunan lebih lanjut di pasar tenaga kerja. Data tersebut muncul setelah data lowongan kerja yang lemah, dan juga membuka kemungkinan bagi data nonfarm payrolls yang lemah pada hari Jumat.
Indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan adanya perlambatan di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini, yang dapat memberikan prospek inflasi yang lebih lemah dan memberikan kepercayaan diri yang lebih besar kepada The Fed untuk mulai menurunkan suku bunganya.
"Hampir dua pertiga ekonom kini memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September, menurut jajak pendapat Reuters pada tanggal 31 Mei-5 Juni, mengimbangi berita penurunan pasokan baru-baru ini," ujar Ibrahim dikutip Kamis (6/6/2024).
Baca Juga: Rupiah Nanjak Lagi 10 Poin ke Rp16.220
Dari internal, sentimen datang dari rencana pemerintah menggabungkan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai menjadi Badan Penerimaan Negara (BPN). Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan pajak dan bea cukai serta mengurangi utang pemerintah yang semakin menggunung. Kebijakan ini merupakan salah satu program kampanye Prabowo-Gibran yang disampaikan saat debat Pilpres 2024.
"Dengan adanya BPN, pemerintah dapat lebih fokus pada peningkatan penerimaan negara tanpa harus menaikkan tarif pajak yang memberatkan masyarakat," ujar Ibrahim.
Selain itu, pemerintah juga berencana memanfaatkan potensi penerimaan negara yang masih sangat besar, mencapai Rp500 triliun, dengan cara memperkecil ruang gerak shadow economy.
Berdasarkan data, konsumsi rumah tangga yang terekam dalam pendapatan negara dari komponen Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2023 hanya mencapai Rp737,64 triliun dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sebesar Rp20.892 triliun.
"Pemerintah harus memaksimalkan potensi penerimaan dari konsumsi rumah tangga yang mencakup 60% dari PDB Indonesia," tambah Ibrahim.
Pemerintah juga didorong untuk mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih produktif dalam menyumbang pendapatan negara. Dari total aset BUMN senilai Rp10.000 triliun, kontribusi terhadap pendapatan negara masih sangat minim, yakni hanya Rp82,06 triliun. Optimalisasi aset-aset BUMN menjadi fokus utama untuk meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
"Pemerintah perlu mendorong BUMN untuk menghasilkan pendapatan yang lebih banyak untuk negara, dari Rp10.000 triliun total aset milik BUMN, perusahaan pelat merah tersebut hanya menyumbang sedikit kepada pendapatan negara," ujar Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










