AKURAT.CO Kurangnya ketersediaan dan akses subsidi pupuk bagi petani Indonesia kembali menjadi sorotan.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menegaskan subsidi pupuk bukan hanya soal stok, tetapi juga bagaimana memberikan jaminan produksi kepada petani.
Teten juga menggarisbawahi cara penyaluran subsidi pupuk di negara lain seperti Amerika Serikat dan India. Dia menjelaskan bahwa di AS, pupuk disalurkan ke produsen komoditas seperti jagung, kentang, dan gandum dengan memberikan pembiayaan gratis.
Baca Juga: Melalui Pupuk Indonesia, Pemerintah Jamin Ketersediaan Pupuk Subsidi dan Nonsubsidi untuk Petani
"Di sana, produsen sudah bisa mendapatkan pembiayaan di awal, sehingga pemerintah dapat mengontrol stok komoditas dengan lebih baik," ujar Teten di Kantor Kemnkop UKM, Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Sementara di India, ada organisasi petani dengan produsen (FPO) yang ditugaskan oleh pemerintah untuk membeli produk petani. Melalui sistem ini, petani dapat mengakses pembiayaan dengan bunga rendah melalui keanggotaan dalam organisasi tersebut.
"Dengan demikian, petani mendapat dukungan finansial yang lebih mudah untuk mengembangkan usaha pertanian mereka," tambahnya.
Teten menilai peningkatan akses terhadap pembiayaan dan mendorong partisipasi organisasi petani dalam pembelian produk, akan tercipta sistem pertanian yang dapat menjamin pasokan pangan yang stabil dan memadai.
Sebelumnya, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengusulkan bahwa pemerintah harus meninjau efektivitas program subsidi pertanian untuk mencapai ketahanan pangan.
Menurut seorang peneliti di CIPS Aditya Alta, evaluasi tersebut penting karena peningkatan anggaran subsidi setiap tahun tidak selalu berdampak pada peningkatan produktivitas komoditas pangan.
Dia menekankan perlunya reformasi kebijakan subsidi pertanian secara menyeluruh, termasuk peninjauan mekanisme subsidi dan perencanaan penghapusan bertahap.
"Diperlukan reformasi kebijakan subsidi pertanian secara menyeluruh, termasuk dengan mengevaluasi mekanisme subsidi dan merencanakan penghapusan bertahap,” ujar Aditya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









