Rawan Dipolitisasi, Ekonom Soroti Belanja Bansos Rp496 T di APBN 2024

AKURAT.CO Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) khususnya belanja negara terkait bantuan sosial atau bansos disorot lantaran sarat dipolitisasi dan terlalu besar porsinya.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Paramadina yang juga Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik Junaidi Rachbini di sela Diskusi Universitas Paramadina bertajuk Masalah APBN, Utang dan Tax Ratio Rendah,PR Presiden Yang Akan Datang di Jakarta, Senin (5/2/2024).
Ia menilai pengelolaan APBN perlu mendapat perhatian khusus dalam hal pengeluaran.
Baca Juga: Mahfud MD Janji Bansos akan Lebih Banyak dan Tepat Sasaran Jika Menang Pilpres 2024
Ia juga mencermati ketidakseimbangan kinerja APBN antara penerimaan dan pengeluaran, yang termanifestasi melalui peningkatan terus-menerus dalam pengeluaran, seperti alokasi dana bansos yang mencapai Rp496 triliun untuk tahun 2024.
"Kita menghadapi permasalahan APBN yang mengalami penyalahgunaan, terutama dari sisi pengeluaran. Dengan Bansos mencapai Rp496 triliun, utang yang belum dibayar Rp500 triliun, alokasi pendidikan sebesar 20 persen (dari APBN) mencapai Rp600 triliun, dan transfer daerah sebesar Rp800 triliun. Apakah perlu penambahan lainnya?," kata Didik.
Ditambahkan, APBN juga rawan dipolitisasi terutama dengan masuknya tahun pemilihan umum (pemilu) Presiden. Oleh karena itu, ia menganjurkan pengawasan yang lebih ketat terhadap pengeluaran APBN.
"Jadi, sisi pengeluaran mengalami tekanan, terutama jika tidak ada kontrol yang memadai dari kalangan akademisi. Politik bisa menciptakan hegemoni dan maksimalisasi pengeluaran anggaran, oleh karena itu perlu pendekatan yang rasional," imbuhnya.
Di lain sisi, Didik juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap kritis dalam memilih pemimpin berikutnya dan menghindari buaian atau janji-janji manis."Jadi, janji-janji Presiden, apakah itu realistis dan sumber keuangannya dari mana, itu pertanyaan yang perlu diajukan secara kritis," sambungnya.
Selanjutnya, ia juga menyoroti bahwa pertumbuhan tax ratio Indonesia tidak sebesar negara lain yang telah mencapai puluhan persen, menambahkan dimensi perhatian terhadap isu pengelolaan APBN. (Elza Hayarana Sahira)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









