Akurat

Mengenal Istilah ICOR Yang Bikin Heboh Warganet Usai Debat Cawapres

M. Rahman | 25 Desember 2023, 14:53 WIB
Mengenal Istilah ICOR Yang Bikin Heboh Warganet Usai Debat Cawapres

AKURAT.CO Di antara beberapa istilah yang disebut dalam debat cawapres perdana belum lama ini, ICOR mencuri perhatian warganet. Adalah cawapres paslon nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, yang kerap melontarkan istilah-istilah fancy seperti Carbon Capture and Storage, SGIE (State of The Global Islamic Economy) dan sebagainya.

Di sesi ke-5 debat cawapres, Gibran menjawab pertanyaan dari Muhaimin soal ICOR. "Mungkin PR kita ke depan adalah bagaimana kita bisa menurunkan indeks ICOR kita, kita ingin indeks ICOR kita turun ke 4% hingga 5% sehingga investasi akan naik dan menumbuhkan trust dari calon investor," ujar Gibran menimpali pertanyaan Muhaimin.

ICOR atau The Incremental Capital Output Ratio sebetulnya bukan istilah baru di dunia ekonomi. ICOR adalah rasio antara tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan atau menambah satu unit output.

Baca Juga: Tahun Pemilu, Pemerintah Minta Investor Tetap Investasi di RI karena Ini

Sederhananya adalah mahal atau murahnya biaya investasi atas sebuah pertumbuhan ekonomi. Semakin besar nilai koefisien ICOR, maka semakin tak efisien perekonomian pada periode waktu tertentu.

Ucapan Gibran bahwa ICOR perlu diturunkan memang faktual. Faktanya, sepanjang dua pemerintahan Presiden Jokowi (2014-2023) ICOR RI cenderung naik. Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), ICOR Indonesia tercatat sebesar 6,7 (2016), 6,75 (2017), 6,72 (2018), 6,87 (2019), -15,12 (2020), 8,21 (2021), 6,25 (2022) dan 7,6 (2023). 

Artinya pada tahun 2023, untuk mencetak 1% pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan tambahan 7,6% investasi. Padahal di era sebelumnya rata-rata ICOR masih di kisaran 4%.

Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto, menyebutkan salah satu penyebab mahalnya biaya investasi di RI adalah ketidakefisienan. ICOR yang tinggi disebut sebagai masalah struktural yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi mentok di kisaran 5%.

Menurut Eko, ICOR atau biaya investasi yang mahal itu disebabkan oleh banyak hal mulai dari biaya logistik tinggi, bunga yang mahal, deindustrialisasi termasuk juga birokrasi yang belum bersih dari KKN. Hal ini diperkuat dengan tren mengkhawatirkan dimana tiga kuartal terkahir pertumbuhan ekonomi RI justru menurun.

"Tentu harus ada strategi berbeda dari mereka (paslon) agar trennya berbalik. Harus menyelesaikan hal yang menghambat soal biaya investasi yang tinggi tadi. Jadi harus jelas programnya baik dari sisi pendanaan ke sektor riil maupun aspek institusi atau goverance agar bisa lebih efisien," kata Eko belum lama ini.

Asal tahu, di kawasan Asia Tenggara, ICOR negara peers Indonesia jauh lebih rendah. Di 2019, tercatat ICOR Indonesia sebesar 6,8 sementara rata-rata ICOR beberapa negara di ASEAN (Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) pada kurun waktu tersebut adalah 3,7 di mana Malaysia 5,4, Filipina 4,1, Thailand 4,4 dan Vietnam 3,7. Tahun 2021, ICOR Indonesia justru meningkat tajam ke angka 8, meskipun kemudian mengalami penurunan tahun 2022 menjadi 6,25, sedangkan beberapa negara ASEAN tadu relatif tidak berubah. Sejak tahun 2019 hingga 2022, ICOR Indonesia cenderung melampaui rata-rata ICOR beberapa negara ASEAN.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa