Rupiah Turun 5 Poin Ke Rp15.655 Meski Pemerintah Rilis Paket Kebijakan Ekonomi

AKURAT.CO Rupiah turun 5 poin Ke level Rp15.655 pada penutupan perdagangan Kamis, 9 November 2023 usai komentar hawkish sejumlah pejabat The Fed.
Pengamat Pasar Uang Dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.
Dari eksternal, sejumlah pejabat Fed memperingatkan bahwa pasar harus berhati-hati dalam bertaruh pada penurunan suku bunga lebih awal. Inflasi yang tinggi dan ketahanan perekonomian AS juga dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut pada tahun ini.
Baca Juga: Rupiah Turun 14 Poin Ke Rp15.650 Karena Ini
"Komentar mereka agak mengimbangi spekulasi baru-baru ini bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed telah berakhir, dan membuat para pedagang beralih kembali ke aset-aset yang terkena suku bunga seperti dolar dan Treasury," kata Ibrahim dikutip Kamis (9/11/2023).
Menambah ketidakpastian, Ketua Fed Jerome Powell memberikan sedikit petunjuk mengenai kebijakan moneter dalam pidatonya pada hari Rabu. Namun Ketua kini akan berbicara di acara terpisah pada Kamis malam.
Meskipun pasar menafsirkan komentarnya tidak terlalu hawkish, Powell tetap mempertahankan retorikanya bahwa suku bunga AS akan tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, dan diperlukan upaya lebih untuk menurunkan inflasi.
Sementara dari Asia, China kembali melakukan disinflasi, namun tanda-tanda perselisihan ekonomi lainnya di China menjadi beban terbesar di pasar Asia, karena data pemerintah menunjukkan bahwa inflasi konsumen dan produsen menyusut pada bulan Oktober.
Data tersebut menunjukkan bahwa China mengalami disinflasi untuk kedua kalinya pada tahun ini, karena langkah-langkah stimulus yang berulang kali dilakukan oleh Beijing gagal menopang pengeluaran secara berarti. Kelemahan di China juga menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia yang lebih luas, mengingat ketergantungan mereka pada negara tersebut sebagai mitra dagang.
Sentimen Internal Rupiah
Guna untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 sebesar 5%, maka pemerintah akan focus terhadap daya beli Masyarakat. Perekonomian global tidak baik-baik saja. Ekonomi dunia tengah berada dalam tren perlambatan, terutama dialami Eropa dan China.
Meskipun kinerja ekonomi cenderung menguat, namun kondisi fiskal AS mengalami tekanan signifikan yang memicu gejolak pasar keuangan dengan naiknya yield UST ke rekor tertinggi dalam 1,5 dekade terakhir.
"Dinamika perlambatan dan meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global berdampak cukup signifikan pada hampir seluruh negara emerging market, termasuk Indonesia," imbuh Ibrahim
Adapun, efek lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2023 tercatat 4,94%. Ekonomi Indonesia melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,17%, terutama akibat menurunnya kinerja ekspor barang dan jasa.
Tren perlambatan global diperkirakan berlanjut dan berpotensi menggeret pertumbuhan kuartal IV-2023 kembali berada di bawah 5% sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 berisiko di bawah 5%. Selain itu, dampak El Nino yang telah mendorong kenaikan inflasi volatile food akibat naiknya harga beras juga perlu diwaspadai.
Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah merilis paket kebijakan untuk stabilisasi ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat. Paket kebijakan tersebut terdiri dari tiga kebijakan utama. Kebijakan pertama, yaitu penebalan bansos untuk melindungi daya beli masyarakat miskin dan rentan. Kebijakan kedua yaitu percepatan penyaluran program KUR ditujukan untuk penguatan UMKM guna menopang pertumbuhan di tengah peningkatan suku bunga. Kebijakan ketiga yaitu penguatan sektor perumahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









