51 Persen Konsumen Indonesia Batal Belanja Online Gara-Gara Metode Pembayaran

AKURAT.CO Pernah menemukan barang yang cocok di toko online, memasukkannya ke keranjang, lalu mengurungkan niat membeli karena metode pembayaran yang diinginkan tidak tersedia? Situasi ini ternyata menjadi persoalan serius dalam belanja digital di Indonesia. Laporan terbaru Xendit dan Cube mengungkapkan, 51 persen responden Indonesia membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena tidak menemukan metode pembayaran pilihan mereka.
Temuan dalam Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan persentase tertinggi di antara enam negara Asia Tenggara yang disurvei. Angka ini menunjukkan bahwa pengalaman berbelanja tidak hanya ditentukan oleh harga dan produk, tetapi juga oleh kemudahan konsumen menyelesaikan pembayaran.
Mengapa 51 Persen Konsumen Indonesia Batal Belanja Online?
Sebanyak 51 persen responden Indonesia mengaku membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia. Temuan Xendit bersama Cube ini menunjukkan bahwa keterbatasan pilihan pembayaran dapat menjadi penghalang pada tahap akhir transaksi, ketika konsumen sudah mempertimbangkan produk yang akan dibeli.
Laporan tersebut menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia. Angka 51 persen merujuk pada responden survei yang melaporkan pengalaman tersebut, bukan persentase seluruh transaksi e-commerce nasional yang gagal.
Presiden Xendit, Nazim Ali, menilai perubahan kebiasaan pembayaran konsumen perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam menyediakan pilihan yang sesuai.
“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai? Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan,” ujar Nazim Ali melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang sering kali luput dari perhatian penjual online. Toko dapat menawarkan produk dengan harga kompetitif, memberikan diskon, dan memiliki proses pemesanan yang sederhana, tetapi konsumen tetap berpotensi meninggalkan transaksi jika pilihan pembayaran tidak sesuai dengan kebiasaannya.
Bagaimana Posisi Indonesia Dibandingkan Negara Lain di Asia Tenggara?
Persentase pembatalan pembelian akibat metode pembayaran yang tidak tersedia di Indonesia mencapai 51 persen. Sebagai pembanding, Malaysia mencatat angka 31 persen, atau berselisih 20 poin persentase.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa masalah ketersediaan metode pembayaran lebih banyak dilaporkan oleh responden Indonesia dibandingkan responden Malaysia dalam survei ini. Namun, data tersebut belum cukup untuk menjelaskan penyebab perbedaan perilaku konsumen di kedua negara.
Faktor seperti kebiasaan menggunakan layanan pembayaran tertentu, pilihan yang disediakan merchant, dan pengalaman bertransaksi dapat menjadi bahan penyelidikan lebih lanjut. Untuk memastikan pengaruh setiap faktor, diperlukan data tambahan mengenai karakteristik responden dan alasan mereka memilih membatalkan pembelian.
Bagi pelaku usaha, temuan ini memberikan alasan untuk mengevaluasi proses pembayaran sebagai bagian dari pengalaman pelanggan. Persoalan checkout tidak selalu selesai dengan mempercepat halaman transaksi atau memperbaiki tampilan aplikasi. Ketersediaan metode pembayaran yang relevan juga perlu diperhatikan.
Baca Juga: Facebook Pro Dibayar Lewat Apa? Simak Metode Pembayaran dan Prosesnya
Baca Juga: Konsumen 40+ Kian Getol Belanja Online, Pasar Baru Yang Dibidik Merek
Apa Hubungan Metode Pembayaran dengan Pembatalan Checkout?
Pembatalan checkout terjadi ketika konsumen tidak melanjutkan proses pembelian hingga transaksi selesai. Dalam konteks laporan Xendit dan Cube, salah satu hambatan yang dilaporkan responden adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan.
Sebagai ilustrasi, seorang pelanggan hendak membeli sepatu melalui toko online. Ia terbiasa membayar menggunakan dompet digital, tetapi halaman checkout hanya menawarkan metode yang tidak praktis baginya. Pelanggan tersebut mungkin memilih mencari toko lain yang menyediakan opsi pembayaran lebih sesuai.
Ilustrasi itu bukan kasus nyata yang dilaporkan dalam penelitian, melainkan gambaran bagaimana preferensi pembayaran dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Dalam praktik bisnis, tahap checkout merupakan bagian penting karena konsumen sudah melewati proses menemukan produk dan mempertimbangkan harga. Ketika hambatan muncul pada tahap ini, penjual berisiko kehilangan peluang transaksi yang sebelumnya sudah terbentuk.
Meski demikian, tidak semua pembatalan checkout disebabkan oleh metode pembayaran. Konsumen juga dapat berubah pikiran karena biaya pengiriman, harga akhir, estimasi pengantaran, atau faktor lainnya. Karena itu, merchant perlu memeriksa data transaksi untuk mengetahui hambatan yang benar-benar terjadi pada tokonya.
Dompet Digital Digunakan dalam Sekitar 60 Persen Pembelian
Kebiasaan pembayaran konsumen Indonesia yang beragam turut terlihat dari penggunaan dompet digital. Menurut laporan Xendit dan Cube, dompet digital digunakan dalam sekitar 60 persen pembelian responden.
Sebanyak 70 persen responden bahkan menggunakan dompet digital untuk setidaknya separuh dari pembelian mereka. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara enam negara yang disurvei.
GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay disebut sebagai pemain utama di pasar dompet digital Indonesia. Meski demikian, tidak ada satu merek yang mendominasi pasar berdasarkan temuan yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Data ini memperlihatkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari aktivitas belanja konsumen. Pada saat yang sama, keberadaan beberapa pemain utama menunjukkan bahwa preferensi konsumen tidak terkonsentrasi pada satu layanan saja.
Bagi merchant, kondisi tersebut menghadirkan tantangan operasional. Menyediakan satu dompet digital belum tentu memenuhi kebutuhan semua pelanggan. Namun, menambahkan banyak pilihan pembayaran tanpa mempertimbangkan kebutuhan pelanggan juga belum tentu menjadi strategi paling efisien.
Pelaku usaha perlu melihat metode yang paling sering digunakan pelanggannya, biaya operasional setiap opsi, tingkat keberhasilan transaksi, dan kemudahan pencatatan pembayaran. Dengan begitu, keputusan untuk menambahkan metode pembayaran dapat didasarkan pada kebutuhan bisnis, bukan semata-mata mengikuti tren.
Transaksi QRIS di Platform Xendit Tumbuh 142 Persen
Selain dompet digital, QRIS menjadi salah satu indikator perubahan perilaku pembayaran di Indonesia. Laporan Xendit dan Cube mencatat transaksi QRIS di platform Xendit meningkat 142 persen antara Januari 2025 dan April 2026.
Pada periode yang sama, transaksi kartu kredit di platform tersebut tumbuh 83 persen. Pertumbuhan QRIS yang lebih tinggi menunjukkan meningkatnya aktivitas pembayaran menggunakan standar kode QR nasional pada infrastruktur Xendit.
Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan pertumbuhan transaksi di platform Xendit, bukan pertumbuhan seluruh transaksi QRIS di Indonesia. Data ini juga menunjukkan pertumbuhan selama periode yang disebutkan, bukan pangsa QRIS terhadap seluruh transaksi e-commerce nasional.
Laporan tersebut juga memperkirakan transfer bank digunakan dalam 52 persen dari total pembelian responden survei. Temuan ini menegaskan bahwa pilihan pembayaran konsumen mencakup beberapa jenis layanan, mulai dari dompet digital hingga transfer bank dan pembayaran berbasis QR.
Xendit sendiri merupakan penyedia layanan akuisisi QRIS berlisensi. Melalui layanan tersebut, pelaku usaha dapat menerima pembayaran QRIS melalui Xendit tanpa perlu menunjuk bank lain sebagai penyedia layanan akuisisi.
Dalam laporan tersebut, Xendit juga menyoroti sistem pembayaran yang terhubung langsung dengan jaringan pemrosesan transaksi atau direct-to-rail. Model ini dapat membantu pelaku usaha memperoleh visibilitas data transaksi, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta mempermudah pengelolaan pembayaran sehari-hari.
Dari sisi operasional, pencatatan yang lebih terintegrasi dapat membantu merchant mencocokkan pembayaran dengan pesanan. Namun, manfaat aktualnya tetap bergantung pada sistem yang digunakan dan implementasi di masing-masing bisnis.
Preferensi Pembayaran Konsumen Berbeda di Jakarta dan Bali
Kebutuhan pembayaran juga tidak selalu sama di setiap wilayah. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, menyebut konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali didominasi kartu pembayaran internasional.
Perbedaan tersebut memberikan gambaran bahwa karakteristik pelanggan dapat memengaruhi metode pembayaran yang lebih relevan bagi suatu bisnis. Merchant yang melayani konsumen domestik dengan pola transaksi tertentu mungkin membutuhkan kombinasi opsi yang berbeda dari bisnis yang banyak melayani wisatawan internasional.
Meski demikian, contoh Jakarta dan Bali tersebut tidak berarti seluruh konsumen di kedua wilayah memiliki kebiasaan yang sama. Data yang tersedia hanya menunjukkan pola yang disampaikan oleh Megatix, bukan gambaran menyeluruh mengenai semua transaksi di setiap daerah.
Bagi pelaku usaha, pelajaran praktisnya adalah menghindari strategi pembayaran yang seragam tanpa mempertimbangkan profil pelanggan. Data transaksi internal, lokasi pelanggan, jenis produk, serta metode yang paling sering dipilih dapat membantu menentukan opsi pembayaran yang perlu diprioritaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 6Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 7Prediksi Skor Como vs Man Utd 21 Oktober 2026: Setan Merah Terancam
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja








