Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Melemah, Dolar AS Bergerak di Rp17.960

Esha Tri Wahyuni | 13 Oktober 2026, 07:30 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah, Dolar AS Bergerak di Rp17.960
ilustrasi tumpukan mata uang rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026).

Pergerakan rupiah masih dibayangi penguatan indeks dolar AS, ketidakpastian geopolitik global, serta sentimen negatif dari pasar keuangan domestik.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah bergerak di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per USD pada perdagangan besok.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah, Ini Sentimen yang Membayangi Dolar AS

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.910-Rp17.960," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (12/10/2026).

Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah melemah 14 poin ke level Rp17.913 per USD. Sebelumnya, mata uang Garuda sempat menguat 7 poin sebelum akhirnya bergerak turun dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.899 per USD.

Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per USD. Rentang tersebut mencerminkan potensi fluktuasi yang masih perlu dicermati pelaku pasar.

Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Sentimen pasar global masih dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, risiko gangguan pasokan energi, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Konflik dan Harga Energi

Ketegangan di kawasan Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar setelah muncul laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute penting perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran berpotensi menghambat distribusi energi dan memicu kembali kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Perkembangan tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga energi dan ekspektasi inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, pasar akan mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau melanjutkan pengetatan kebijakan moneter.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.