Rupiah Diprediksi Melemah, Ini Sentimen yang Membayangi Dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan awal pekan ini.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), hingga kondisi fiskal dalam negeri.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.890 hingga Rp 17.950 per USD pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Baca Juga: Dibayangi Konflik AS-Iran dan Defisit APBN, Rupiah Justru Menguat Tipis ke Rp17.899
"Pada perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.890-Rp 17.950. Sedangkan perdagangan dalam minggu depan di rentang Rp 17.780-Rp 18.060," kata Ibrahim dalam analisis hariannya, Jumat (9/10/2026).
Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp 17.899 per USD, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.915 per USD. Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat naik 40 poin selama perdagangan.
Meski demikian, penguatan rupiah pada akhir pekan belum serta-merta menghilangkan risiko volatilitas pada pekan berikutnya. Perkembangan geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS masih menjadi faktor yang dicermati pasar valuta asing.
Dari eksternal, perkembangan hubungan Washington dan Teheran menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tengah melakukan pembicaraan produktif dengan Iran.
Trump juga menyebut tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres AS pada 3 November 2026.
Di sisi lain, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan Teheran tengah meninjau tanggapan AS atas usulan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Konflik dan Harga Energi
Ketidakpastian penyelesaian konflik masih perlu dicermati karena perkembangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor dan pergerakan harga energi global. Perubahan sentimen terhadap risiko geopolitik dapat memengaruhi permintaan terhadap dolar AS maupun mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Ijazah Gibran Dipersoalkan, Politisi PSI Singgung Riwayat Pendidikan BJ Habibie
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









