Akurat Logo

Gaji Belum Masuk, Tabungan Sudah Dimakan: Kenapa Masyarakat Kelas Menengah Makin Sulit Menyimpan Uang?

Idham Nur Indrajaya | 8 Oktober 2026, 19:44 WIB
Gaji Belum Masuk, Tabungan Sudah Dimakan: Kenapa Masyarakat Kelas Menengah Makin Sulit Menyimpan Uang?
Gaji belum masuk, tabungan sudah terpakai. Simak kenapa masyarakat makin sulit menyimpan uang dan cara memutus siklus makan tabungan. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Gajian masih beberapa hari lagi, tetapi saldo rekening sudah tinggal sedikit. Tagihan rutin tetap harus dibayar, kebutuhan harian terus berjalan, sementara ada pengeluaran mendadak yang tidak bisa ditunda. Pada titik ini, tabungan yang semestinya disimpan untuk masa depan justru dipakai untuk bertahan sampai gaji berikutnya.

Fenomena semacam ini kerap disebut sebagai “makan tabungan”, ketika uang yang sebelumnya berhasil disisihkan akhirnya kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan sebelum pemasukan berikutnya datang.

Persoalannya tidak selalu sesederhana masyarakat terlalu banyak membeli kopi, nongkrong, berbelanja, atau menikmati hiburan. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni semakin sempitnya ruang untuk mempertahankan uang setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Data Bank Indonesia dalam Survei Konsumen Agustus 2026 memberikan gambaran mengenai kondisi tersebut. Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,7 persen pada Juli menjadi 74,2 persen pada Agustus.

Pada periode yang sama, porsi pendapatan yang disimpan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Sementara porsi pendapatan untuk membayar cicilan atau utang turun dari 10,5 persen menjadi 10 persen.

Artinya, dari setiap Rp1 juta pendapatan, secara agregat sekitar Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk cicilan atau utang, dan hanya sekitar Rp158 ribu yang masuk ke tabungan.

Angka tersebut tentu bukan berarti setiap orang dengan pendapatan Rp1 juta memiliki pola pengeluaran yang persis sama. Namun, data tersebut memperlihatkan adanya perubahan komposisi penggunaan pendapatan: semakin besar bagian uang yang terserap untuk konsumsi, semakin kecil ruang yang tersisa untuk membangun tabungan.

Baca Juga: Gawat! Fenomena Dissaving, Masyarakat Kelas Menengah Bawah Makan Tabungan Mulai Hantui RI

Baca Juga: Dari Celengan ke Buku Rekening, Siswa Sekolah Rakyat Belajar Menabung bersama BNI

Kenapa Gaji Belum Masuk, tetapi Tabungan Sudah Dipakai?

“Gaji belum masuk, tabungan sudah dimakan” sebenarnya menggambarkan persoalan arus kas.

Seseorang dapat saja menyisihkan uang pada awal bulan. Namun, apabila uang tersebut kembali ditarik sebelum periode berikutnya karena kebutuhan rutin atau pengeluaran tidak terduga, secara nominal ia memang menabung, tetapi saldo yang berhasil dipertahankan tetap kecil.

Inilah perbedaan penting antara menabung dan berhasil mempertahankan tabungan.

Misalnya, seseorang memperoleh pendapatan Rp5 juta per bulan. Jika mengikuti komposisi agregat Survei Konsumen Bank Indonesia, sekitar Rp3,71 juta dapat terserap untuk konsumsi, Rp500 ribu untuk cicilan, dan sekitar Rp790 ribu tersisa untuk tabungan.

Secara teori, angka Rp790 ribu terlihat cukup baik. Namun, bayangkan pada minggu ketiga muncul kebutuhan mendadak sebesar Rp600 ribu.

Uang yang sebelumnya berhasil disimpan akhirnya kembali ditarik. Pada akhir bulan, orang tersebut memang sempat menabung, tetapi tabungannya tidak benar-benar bertambah secara berarti.

Di sinilah fenomena makan tabungan menjadi lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan mengenai apakah seseorang rajin menabung atau tidak.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.