AI Masuk Industri Asuransi, OJK: Keputusan Tetap di Tangan Manusia

AKURAT.CO Pemanfaatan artificial intelligence (AI) mulai menjadi bagian penting dalam transformasi bisnis industri asuransi jiwa. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan teknologi tersebut tidak boleh mengambil alih sepenuhnya keputusan yang berdampak langsung terhadap nasabah.
Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono menilai, penggunaan AI di industri asuransi harus diikuti kepemimpinan strategis dan tata kelola yang jelas. Menurutnya, perusahaan perlu memahami tujuan penggunaan AI, tingkat kepentingannya bagi bisnis, cara teknologi tersebut digunakan, hingga pihak yang bertanggung jawab apabila terjadi kesalahan.
“AI tanpa leadership hanyalah teknologi, tetapi leadership yang memahami AI dapat mengubah teknologi menjadi sebuah strategi. Pemanfaatan AI dalam underwriting, claims management, fraud detection, customer service, distribution, maupun product development pada akhirnya merupakan keputusan strategis dan bisnis yang menjadi tanggung jawab institusi,” kata Sumarjono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Kredit Bank Tumbuh 13,65 Persen, OJK Perketat Aturan Ekspansi
Dirinya menegaskan pemanfaatan AI membutuhkan professional judgment serta sumber daya manusia yang memiliki pemahaman mengenai aspek asuransi sekaligus teknologi. Hal ini menjadi penting karena AI dapat digunakan dalam sejumlah proses yang secara langsung berpengaruh terhadap nasabah.
Salah satu prinsip yang perlu diterapkan adalah human-in-the-loop. Artinya, hasil yang diberikan sistem AI tetap harus berada dalam pengawasan manusia, terutama untuk proses seperti underwriting, penghitungan premi, hingga penilaian klaim.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu menganalisis data dan menghasilkan rekomendasi. Namun, manusia tetap memiliki kewenangan untuk meninjau hasil tersebut, termasuk menyetujui, menyesuaikan, atau membatalkan keputusan yang dihasilkan sistem.
Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo mengatakan, perkembangan teknologi dan AI seharusnya tidak hanya dilihat dari kebutuhan perusahaan untuk membeli atau mengganti sistem teknologi. Menurutnya, investasi digital harus dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja perusahaan.
“Perkembangan teknologi dan AI dapat membantu para CEO dan decision makers dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Bukan lagi sekadar melihat kebutuhan untuk membeli atau mengganti sistem, tetapi bagaimana investasi dan pemanfaatan teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kinerja dan bottom line perusahaan,” ujar Albertus.
Dirinya juga menekankan pentingnya pengawasan manusia ketika AI digunakan pada proses yang berhubungan langsung dengan nasabah.
“Pemanfaatan AI juga tetap membutuhkan pengawasan dan kendali manusia yang kuat, terutama dalam proses yang dapat berdampak langsung pada nasabah,” lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










