Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif, Dekati Rp18.000 per USD

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan kembali mendekati level Rp18.000 per USD.
Kondisi ini terjadi di tengah sejumlah indikator ekonomi domestik yang menunjukkan perbaikan, mulai dari aktivitas manufaktur hingga neraca perdagangan.
Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), rupiah ditutup di level Rp17.966 per USD, melemah 72 poin atau 0,40% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.894 per USD.
Data kurs transaksi Bank Indonesia pada hari yang sama mencatat nilai USD berada di kisaran Rp17.966,38 untuk kurs jual.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika dolar AS masih menjadi perhatian pelaku pasar global. Ketidakpastian hubungan AS-Iran, perkembangan di Selat Hormuz, pergerakan harga energi, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arus modal dan pasar valuta asing.
Baca Juga: Rupiah Sudah Melemah ke Rp17.966, Masih Efektifkah BI Rate 5,75 Persen?
Di AS, data terbaru menunjukkan inflasi inti berdasarkan Personal Consumption Expenditures (core PCE) naik 0,2% secara bulanan pada Agustus 2026 dan 3% secara tahunan.
Sementara itu, belanja konsumen meningkat 0,9% secara bulanan, menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih relatif kuat.
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan tersebut memang mengurangi tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Namun, ketahanan konsumsi dan ekonomi AS membuat pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter pada periode berikutnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi rupiah karena pergerakan imbal hasil aset AS dan dolar dapat memengaruhi preferensi investor terhadap aset negara berkembang.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia justru menunjukkan sejumlah perkembangan positif. S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 52,4 pada September 2026 dari 49,8 pada Agustus.
Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2026.
Kinerja perdagangan juga memberikan bantalan terhadap perekonomian domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan USD3,55 miliar pada Agustus 2026.
Nilai ekspor mencapai USD26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan, sedangkan impor mencapai USD23,06 miliar atau meningkat 19,09%.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Pantau AS-Iran dan The Fed
Namun, surplus perdagangan tersebut belum serta-merta menghilangkan tekanan terhadap rupiah. Pasalnya, impor yang tumbuh lebih cepat mencerminkan kuatnya kebutuhan domestik, sementara pasar valuta asing tetap dipengaruhi oleh kondisi eksternal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah










