Bukan Selalu Beban, HSBC Ungkap Sisi Lain Suku Bunga Tinggi bagi Ekonomi Indonesia

AKURAT.CO Suku bunga tinggi biasanya membawa satu kesan: ekonomi sedang menghadapi tekanan. Bagi rumah tangga, bunga pinjaman yang mahal dapat membuat cicilan semakin berat. Bagi perusahaan, biaya modal yang meningkat bisa membuat rencana ekspansi harus dihitung ulang.
Namun, HSBC melihat ada sisi lain yang tidak kalah penting. Dalam kondisi tertentu, suku bunga tinggi justru dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi ekonomi. Menariknya, pertumbuhan kredit investasi dan kredit modal kerja di Indonesia tetap menunjukkan percepatan meski tingkat suku bunga berada di level tinggi.
Menurut HSBC, suku bunga tinggi tidak otomatis berarti ekonomi Indonesia sedang mengalami pengetatan berlebihan. Kebijakan tersebut dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara kredit investasi dan modal kerja masih dapat tumbuh. Artinya, dampak suku bunga perlu dilihat dari keseimbangan antara biaya pembiayaan dan manfaat stabilitas ekonomi.
Mengapa Suku Bunga Tinggi Tidak Selalu Menjadi Beban?
Suku bunga bekerja melalui lebih dari satu jalur.
Ketika bank sentral menaikkan suku bunga, biaya pinjaman memang meningkat. Rumah tangga dapat menunda pembelian yang membutuhkan kredit, sementara perusahaan bisa meninjau kembali proyek investasi yang membutuhkan pendanaan eksternal.
Namun, suku bunga juga menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Dalam konteks Indonesia, persoalan rupiah menjadi penting karena pergerakan dolar AS sangat dipengaruhi kondisi global, termasuk arah kebijakan Federal Reserve. Ketika dolar AS menguat dan investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, mata uang lokal dapat menghadapi tekanan.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan daya tarik aset dalam rupiah. Mekanisme tersebut tidak berarti kenaikan bunga otomatis membuat rupiah menguat, tetapi dapat membantu mengurangi tekanan dalam kondisi tertentu.
Inilah sisi yang menurut HSBC perlu dilihat bersamaan dengan biaya pembiayaan.
Frederic Neumann, Chief Asia Economist HSBC, menilai Indonesia telah menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan energi, pangan, dan suku bunga global.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,4% pada semester I 2026. HSBC juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di level 5,4%, sebelum melandai menjadi 5,2% pada 2027.
Artinya, tingkat suku bunga yang relatif tinggi tidak secara otomatis membuat aktivitas ekonomi berhenti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 5Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun






