Akurat Logo

Rupiah Tembus Rp18.000, Begini Proyeksi Nasib IHSG dan SBN Menurut Analisis Mirae Asset

Idham Nur Indrajaya | 29 September 2026, 15:42 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, Begini Proyeksi Nasib IHSG dan SBN Menurut Analisis Mirae Asset
Rupiah tembus Rp18.000. Simak skenario BI, IHSG, foreign flow, dan SBN menurut analisis Mirae Asset. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Angka Rp18.000 kembali ditembus Rupiah. Pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, Rupiah melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.005 per dolar AS di pasar spot. Persoalannya bukan hanya soal bertambah mahalnya dolar, tetapi apa yang terjadi jika tekanan terhadap Rupiah berlanjut.

Rupiah tembus Rp18.000 dapat membuat perhatian pasar bergeser pada respons Bank Indonesia (BI), stabilitas nilai tukar, dan arus modal asing. Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin masih terbuka jika Rupiah kembali melewati level tersebut. Namun, BI juga memiliki instrumen lain untuk menjaga stabilitas sekaligus likuiditas.

Tekanan terhadap Rupiah datang ketika dolar AS masih kuat di pasar global. DXY bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan, sementara kenaikan harga minyak, ekspektasi kebijakan moneter ketat The Fed, serta risiko geopolitik turut membentuk sentimen pasar.

Dari dalam negeri, permintaan valuta asing dari importir dan arus keluar modal dari aset domestik ikut memberikan tekanan. Kondisi tersebut membuat level Rp18.000 menjadi lebih dari sekadar angka psikologis bagi pasar.

Baca Juga: Ganti Strategi Stabilisasi Rupiah, BI Pangkas Intervensi di Pasar Spot

Baca Juga: Hubungan Harga Emas dan Nilai Tukar Rupiah, Pahami Yuk!

Mengapa Rupiah Tembus Rp18.000?

Pelemahan Rupiah kali ini merupakan hasil pertemuan tekanan eksternal dan domestik. BRI Danareksa Sekuritas mencatat dolar AS masih berada dalam posisi kuat, dengan DXY bertahan di dekat level tertinggi dua bulan.

“Rupiah melemah menembus Rp 18.000 per dollar AS pada Selasa, berbalik dari penguatan sebelumnya di tengah penguatan dollar AS. Indeks dollar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi dua bulan, didorong kenaikan harga minyak, ekspektasi pengetatan The Fed, dan risiko geopolitik,” tulis BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Selasa, 29 September 2026.

Kondisi tersebut penting karena pergerakan Rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi Indonesia. Ketika dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang utama, mata uang negara berkembang seperti Rupiah dapat ikut mengalami tekanan.

Permintaan dolar di dalam negeri juga menjadi faktor. Importir membutuhkan dolar untuk membayar barang, bahan baku, mesin, maupun kewajiban kepada pihak di luar negeri.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut tekanan domestik meningkat akibat tingginya permintaan valas dari importir dan berlanjutnya arus keluar modal dari aset domestik.

Dengan demikian, terdapat dua sumber tekanan yang bekerja bersamaan. Dolar AS mendapatkan dukungan dari faktor global, sementara kebutuhan terhadap dolar di dalam negeri tetap tinggi.

Apa Arti Rp18.000 bagi Kebijakan Bank Indonesia?

Level Rp18.000 menjadi penting karena berhubungan dengan ruang kebijakan BI. Sebelumnya, BI telah mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen selama tiga bulan berturut-turut.

Mirae Asset menilai keputusan mempertahankan suku bunga tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. IHSG sempat rebound 1,56 persen ke level 6.375, sedangkan Rupiah bergerak di sekitar Rp17.800 sebelum kembali tertekan dan menembus Rp18.000.

Namun, kondisi tersebut dapat berubah apabila tekanan terhadap Rupiah berlanjut.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menilai jika Rupiah kembali melewati Rp18.000 per dolar AS, ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin tetap terbuka.

Pernyataan tersebut tidak berarti BI pasti menaikkan BI-Rate. Kenaikan suku bunga merupakan salah satu skenario yang masih tersedia jika tekanan nilai tukar semakin kuat.

Di sisi lain, BI juga memiliki instrumen stabilisasi selain suku bunga. BRI Danareksa Sekuritas mencatat BI melakukan intervensi melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, pasar spot domestik, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Artinya, setelah Rupiah melewati Rp18.000, pertanyaan pasar bukan semata-mata apakah BI akan menaikkan bunga. Pasar juga akan melihat seberapa efektif kombinasi instrumen yang digunakan bank sentral untuk menjaga nilai tukar dan likuiditas.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.