Akurat Logo

BEI Dorong Kepercayaan Investor Global Lewat Reformasi Pasar Modal

Esha Tri Wahyuni | 26 September 2026, 19:47 WIB
BEI Dorong Kepercayaan Investor Global Lewat Reformasi Pasar Modal
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat agenda reformasi pasar modal untuk meningkatkan kepercayaan investor global.

Reformasi tersebut mencakup penguatan free float perusahaan tercatat, transparansi data kepemilikan saham, tata kelola, kepatuhan dan penegakan regulasi, hingga pendalaman pasar.

Agenda tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam International Capital Market Summit (ICMS) 2026 yang digelar BEI dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Rabu (23/9).

Baca Juga: Hilirisasi Nikel Disorot, Pemerintah Siapkan Reformasi Tata Kelola Mineral Strategis

Forum bertajuk “Restoring Global Investor Confidence through Capital Market Reform and International Best Practices” itu mempertemukan regulator, perusahaan tercatat, Anggota Bursa (AB), investor serta pemangku kepentingan global untuk membahas perkembangan pasar modal Indonesia dan arah reformasinya.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pasar modal Indonesia telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan tersebut terlihat dari peningkatan jumlah perusahaan tercatat dan investor.

"Pasar modal Indonesia telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir disertai dengan ekosistem produk yang semakin beragam," ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Jeffrey mencatat jumlah perusahaan tercatat di BEI meningkat dari 521 perusahaan pada 2015 menjadi 962 perusahaan per 22 September 2026. Pada periode yang sama, jumlah investor pasar modal tumbuh dari sekitar 434 ribu menjadi hampir 31,8 juta investor.

Kapitalisasi pasar juga telah mencapai sekitar Rp11.100 triliun atau setara USD623 miliar. Produk yang tersedia di pasar modal turut semakin beragam, mulai dari saham, exchange traded fund (ETF), real estate investment trust (REIT), waran terstruktur, derivatif hingga efek bersifat utang.

Menurut Jeffrey, perkembangan tersebut membuat tantangan pasar modal Indonesia tidak lagi hanya berkaitan dengan pertumbuhan. Kualitas pasar, kredibilitas, aksesibilitas dan daya saing di tingkat internasional juga menjadi perhatian.

“Berbagai pencapaian pasar modal tentunya menjadi hal yang patut kita apresiasi. Namun, tantangan kita tidak lagi hanya mengenai bagaimana menumbuhkan pasar, tetapi juga bagaimana memperkuat kualitas, kredibilitas, aksesibilitas, dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat internasional,” ujarnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.