OJK: Risiko AI di Bank Bisa Menjalar ke Stabilitas Keuangan

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan penggunaan artificial intelligence (AI) di industri perbankan tidak hanya menghadirkan manfaat bagi efisiensi dan transformasi digital.
Teknologi tersebut juga membawa risiko yang apabila tidak dikelola dapat mempengaruhi ketahanan operasional bank hingga stabilitas sistem keuangan.
Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas OJK, Deden Firman Hendarsyah mengatakan, risiko AI perlu menjadi perhatian industri karena tidak hanya muncul dari model yang digunakan, tetapi juga dapat berdampak lebih luas terhadap operasional dan industri perbankan.
Baca Juga: UMKM Pemula Mulai Tembus Pasar Ekspor, Transaksi Capai USD347 Juta
"Dibalik berbagai manfaat yang ditawarkan AI, terdapat sejumlah risiko baru yang perlu menjadi perhatian industri perbankan," kata Deden dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Deden, risiko pada tingkat model AI antara lain berkaitan dengan deepfake yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan fraud dan social engineering. Penggunaan AI juga menghadirkan persoalan black box, yakni kondisi ketika proses pengambilan keputusan oleh model sulit dijelaskan secara transparan.
Selain itu, terdapat risiko bias AI yang berpotensi menghasilkan keputusan yang tidak adil. Dari sisi keamanan siber, Deden menyebut sejumlah ancaman seperti data poisoning, adversarial attacks, hingga pencurian model AI.
Risiko tersebut tidak berhenti pada sistem atau model yang digunakan oleh masing-masing bank. Menurut Deden, semakin luas penggunaan AI juga dapat menciptakan risiko pada tingkat industri.
Dirinya menjelaskan bank dapat menjadi semakin bergantung kepada pihak ketiga yang menyediakan teknologi AI. Pada saat yang sama, konsentrasi pasar pada sejumlah penyedia teknologi dominan dapat meningkat.
Penggunaan teknologi yang seragam oleh banyak institusi keuangan juga berpotensi menciptakan perilaku yang semakin serupa antarbank.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena risiko yang muncul pada satu penyedia teknologi atau sistem tertentu dapat memiliki dampak yang lebih luas ketika digunakan secara bersamaan oleh banyak institusi. "Oleh karena itu, pengembangan AI di industri perbankan perlu diimbangi dengan tata kelola, pengawasan, dan manajemen risiko yang memadai," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









