IHSG Masih Tertekan, Investor Menanti Data Inflasi dan Neraca Dagang

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (30/6/2026) setelah melemah selama dua hari berturut-turut.
Pelaku pasar kini mengalihkan fokus sepenuhnya pada dua indikator utama ekonomi domestik, yakni data inflasi Juni dan neraca perdagangan Mei yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Juli 2026.
Pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026), IHSG turun 1,28% ke level 5.820,7. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya sikap wait and see investor karena belum muncul katalis baru yang mampu mendorong minat beli di pasar saham.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Uji Level 5.700, Pasar Nantikan Tiga Data Ekonomi Pekan Ini
Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya menyebut IHSG berpotensi bergerak sideways pada rentang 5.700 hingga 5.800. Secara teknikal, indeks kembali berada di bawah rata-rata pergerakan MA5 dan MA20 yang mengindikasikan tren jangka pendek masih lemah.
Sementara itu, indikator MACD masih berada di zona positif, namun histogramnya terus menyempit. Di sisi lain, Stochastic RSI bergerak turun dari area overbought yang mencerminkan momentum penguatan mulai berkurang.
MNC Sekuritas juga melihat tekanan jual masih berpotensi berlanjut. Perusahaan sekuritas tersebut memperkirakan IHSG berpeluang menguji area support pada kisaran 5.723 hingga 5.784, sementara jika terjadi rebound, penguatan diperkirakan terbatas menuju area 5.837 sampai 5.845.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan saham BRIS, IMPC, INDY, dan SUPA sebagai pilihan trading.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways usai Rebound, Level 6.000 Jadi Ujian
Berbeda dengan beberapa pekan sebelumnya yang banyak dipengaruhi sentimen global, perhatian investor kali ini lebih terpusat pada kondisi fundamental ekonomi dalam negeri.
Data inflasi akan memberikan gambaran mengenai tekanan harga sekaligus ruang kebijakan moneter Bank Indonesia, sedangkan neraca perdagangan menjadi indikator penting mengenai kekuatan sektor eksternal Indonesia melalui surplus atau defisit perdagangan.
Kedua indikator tersebut dinilai berpotensi menjadi katalis pertama yang menentukan arah pergerakan pasar saham pada awal semester II 2026. Jika inflasi tetap terkendali dan surplus perdagangan kembali tercatat positif, sentimen pasar berpeluang membaik. Sebaliknya, apabila realisasi data berada di bawah ekspektasi, tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih akan berlanjut.
Dalam beberapa sesi terakhir, pasar saham domestik cenderung kehilangan pendorong baru setelah berbagai sentimen global mulai mereda. Kondisi tersebut membuat data ekonomi domestik menjadi acuan utama investor dalam mengambil keputusan investasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










