Rupiah Masih Tertekan, Sentimen Dolar AS dan Timur Tengah Jadi Penentu

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah masih bertahan di zona pelemahan menjelang perdagangan pekan ini.
Setelah ditutup di level Rp17.801 per USD pada Jumat (19/6/2026), pelaku pasar kini menantikan arah pergerakan kurs yang diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.600 hingga Rp18.000 per USD.
Data perdagangan menunjukkan rupiah melemah 93 poin atau sekitar 0,5% dalam sepekan terakhir. Posisi tersebut turun dari Rp17.708 per USD pada 15 Juni 2026 menjadi Rp17.801 per USD pada penutupan pekan lalu.
Baca Juga: BI Sudah Agresif Naikkan Suku Bunga, Mengapa Rupiah Belum Kuat?
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada awal pekan masih berpotensi mengalami penguatan terbatas. Namun, tekanan eksternal dinilai masih cukup besar sehingga peluang pelemahan hingga menyentuh level psikologis Rp18.000 per USD tetap terbuka.
"Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp18.000 per USD pada pekan depan," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Menurut dia, salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah potensi penguatan indeks dolar AS. Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS berpeluang bergerak pada rentang 99,200 hingga 101,700 seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
"Dolar AS kemungkinan besar akan berada di kisaran 99.200, kemudian resistensinya di 101.700. Sepertinya indeks dolar AS akan kembali menguat," ujarnya.
Tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pasar masih mencermati ketegangan yang kembali muncul setelah dinamika hubungan antara Israel, Lebanon, Amerika Serikat, dan Iran yang sempat memengaruhi aktivitas perdagangan energi global.
Ibrahim menjelaskan gangguan pada jalur distribusi energi dunia, termasuk kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak internasional, telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
Sehingga kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan berimbas pada penguatan dolar AS.
Baca Juga: Sinergi Erat BI-Pemerintah Bikin Rupiah Terus Menguat
"Karena ada gangguan di Selat Hormuz dan cadangan minyak AS mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir, kekosongan pasokan ini membuat harga minyak naik," kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menurut Ibrahim, bank sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Warsh saat ini berfokus menjaga stabilitas harga dan menurunkan inflasi menuju target 2%.
Ibrahim menambahkan, The Fed juga menghentikan praktik pemberian panduan kebijakan jangka depan atau forward guidance. Langkah tersebut membuat pasar lebih bergantung pada data ekonomi aktual dibandingkan ekspektasi terhadap sinyal kebijakan bank sentral.
Secara historis, level Rp17.800 per USD menempatkan rupiah dalam salah satu fase terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian dunia usaha karena dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, barang modal, hingga kebutuhan energi yang masih bergantung pada transaksi dolar AS.
Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi global dan perkembangan geopolitik yang diperkirakan menjadi penentu utama arah dolar AS.
Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpeluang kembali menguat menuju area Rp17.600 per USD. Namun apabila dolar melanjutkan tren penguatan dan ketidakpastian global meningkat, level Rp18.000 per USD menjadi area yang patut diwaspadai pelaku pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









