Rupiah Menguat ke Rp17.860, BI: Aliran Modal Asing Terutama ke Tenor Pendek dan Menengah

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mulai menuai hasil dari langkah agresif menaikkan suku bunga acuan dalam dua bulan terakhir.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini kembali menguat dan bergerak di bawah level psikologis Rp18.000 per USD setelah sempat mengalami tekanan tajam akibat gejolak pasar keuangan global.
Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah ditutup menguat 128,5 poin (0,71%) ke Rp17.860.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring meningkatnya respons positif investor terhadap bauran kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral, terutama melalui kenaikan BI-Rate serta peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik.
Baca Juga: Ditopang Saham-saham BUMN, IHSG Melompat ke Level 6.000 dan Rupiah Menguat ke Rp17.800
"Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), terutama pada tenor pendek dan menengah," ujar Ramdan dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Menurut BI, masuknya kembali dana asing menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai merespons positif kebijakan stabilisasi yang ditempuh bank sentral. Selain kenaikan suku bunga acuan, BI juga memperkuat struktur imbal hasil SRBI dan meningkatkan daya tarik investasi pada instrumen berbasis rupiah.
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar Selasa (9/6/2026), BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%.
Keputusan tersebut menyusul kenaikan suku bunga yang lebih besar pada RDG Bulanan 19-20 Mei 2026, ketika BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps. Dengan demikian, dalam waktu kurang dari satu bulan, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan total 75 bps.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil karena pelemahan rupiah telah melampaui proyeksi awal bank sentral.
Tekanan terhadap mata uang domestik meningkat akibat ketidakpastian global, penguatan dolar AS, serta pergeseran arus modal internasional menuju aset yang dianggap lebih aman.
Selain menaikkan suku bunga, BI juga meluncurkan serangkaian kebijakan tambahan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar.
Kebijakan tersebut meliputi kenaikan struktur suku bunga SRBI untuk seluruh tenor, penurunan biaya swap lindung nilai bagi investor asing, pembukaan kembali fasilitas repo bagi perbankan, hingga peningkatan operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing.
Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








