Mengapa Rupiah Sulit Menguat? Ini Tiga Tekanan Terbesarnya

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Jumat (12/6/2026) seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang semakin tidak bersahabat.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, serta meningkatnya risiko fiskal Indonesia diprediksi membuat rupiah bergerak di dekat level psikologis Rp18.000 per USD.
Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), rupiah ditutup melemah 44 poin ke posisi Rp17.988 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.944 per USD.
Baca Juga: Rupiah Segera Menguat, Dasco Imbau Masyarakat Lepas Dolar
Pelemahan tersebut terjadi setelah indeks dolar AS kembali menguat dan investor global meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah dalam rentang Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS," kata Ibrahim dalam risetnya, Kamis (11/6/2026).
Dari sisi eksternal, pasar keuangan global tengah mencermati perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas. Komando militer gabungan Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.
Meski militer AS menyatakan lalu lintas kapal komersial masih berlangsung normal dan tidak ada kapal perang AS yang terdampak serangan, eskalasi konflik telah mendorong harga energi global bertahan di level tinggi. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.
Sentimen lain datang dari data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan harga konsumen pada Mei 2026 naik 4,2% secara tahunan (year-on-year), menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan inflasi terutama didorong lonjakan biaya energi.
Data tersebut memperkuat pandangan pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun apabila tekanan inflasi tidak mereda.
Kondisi ini menjadi katalis positif bagi dolar AS karena imbal hasil aset berbasis dolar berpotensi tetap tinggi. Akibatnya, aliran modal global cenderung bergerak ke pasar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya risiko fiskal. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada 2026 mencapai 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7% dari PDB.
Proyeksi tersebut juga lebih tinggi dibanding realisasi defisit APBN 2025 yang tercatat sebesar 2,9% dari PDB. OECD menilai pelebaran defisit terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah.
Dalam laporannya, OECD memperkirakan kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara hingga setara 0,6% dari PDB apabila pemerintah tetap mempertahankan kebijakan harga BBM bersubsidi.
Lembaga tersebut menilai pemerintah masih memiliki komitmen menjaga defisit di bawah batas aman 3% PDB. Namun untuk mencapai target tersebut, diperlukan langkah kompensasi fiskal sekitar 0,3% dari PDB melalui efisiensi belanja maupun optimalisasi penerimaan negara.
Selain itu, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7% pada 2026 dari level 5% pada tahun sebelumnya. Perlambatan dipengaruhi tingginya biaya energi, ketidakpastian global, dan potensi pelemahan konsumsi serta investasi.
Sementara inflasi domestik diperkirakan meningkat menjadi 3,4% pada 2026 akibat transmisi bertahap kenaikan harga energi global ke harga dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat
- 10Panggil Bahlil ke Istana, Prabowo Terima Laporan Penguatan Tata Kelola Migas dan Peningkatan Layanan Energi










