Era Inflasi Energi dan Higher for Longer, Bos OJK Sebut Ekonomi RI Tetap Tahan Banting

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan tren suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Namun, di balik ketahanan tersebut, muncul sinyal baru yang perlu dicermati. Surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menyusut tajam, menunjukkan bahwa tekanan eksternal mulai merembet ke fondasi ekonomi domestik.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, ketidakpastian global masih tinggi seiring berlanjutnya konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dunia.
Baca Juga: IHSG Turun ke Level Terendah Sejak Mei 2021, Tembus 5.594,7
"Konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut dan menyebabkan harga energi naik. Kondisi ini mendorong suku bunga tinggi, higher for longer," kata Friderica dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK secara daring, Jumat (5/6/2026).
Meski demikian, OJK menilai perekonomian Indonesia masih mampu menunjukkan daya tahan di tengah berbagai tekanan global yang terjadi.
Selain itu, sektor manufaktur Indonesia masih berada di zona ekspansif pada Mei 2026, mencerminkan permintaan domestik yang tetap bertahan di tengah perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama.
Friderica menjelaskan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan resiliensi yang cukup baik dengan pasar tenaga kerja yang tetap kuat.
Namun tekanan inflasi mulai memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Di sisi lain, ekonomi China masih menghadapi tantangan perlambatan meskipun kinerja ekspornya relatif terjaga.
Perkembangan tersebut membuat arah kebijakan moneter global bergerak tidak seragam. Sejumlah bank sentral masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi, sementara sebagian lainnya mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan.
Di tengah kondisi tersebut, OJK menilai salah satu penopang utama stabilitas ekonomi nasional masih berasal dari kinerja perdagangan luar negeri yang tetap mencatat surplus.
OJK juga menegaskan akan terus memperkuat koordinasi bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, serta pelaku industri jasa keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
OJK menilai kombinasi aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, inflasi yang terkendali, dan neraca perdagangan yang tetap surplus menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian global yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









