Pengamat Ekonomi: Pelemahan Rupiah Tak Bisa Jadi Satu-satunya Indikator Ekonomi Indonesia

AKURAT.CO Pengamat ekonomi Dr. Surya Vandiantara menyebut pelemahan rupiah tak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai ekonomi suatu negara.
Sebab, selain fluktuasi nilai mata uang, harus dilihat indikator lain, seperti pertumbuhan PDB, Neraca Transaksi Berjalan, Cadangan Devisa, dan Fiskal.
Menurutnya, penilaian yang hanya menggunakan fluktuasi nilai mata uang akan tidak komprehensif.
Baca Juga: Kurs Dolar Hari Ini 22 Mei 2026: Rupiah Melemah ke Rp17.707, Cek Kurs BCA dan Mandiri
Sehingga, dapat berujung pada kesalahan membaca situasi ekonomi, termasuk dalam menilai Indonesia.
"Narasi yang berupaya mendiskreditkan perekonomian Indonesia dengan hanya dengan menggunakan satu indikator saja seperti nilai mata uang Dolar Amerika Serikat, merupakan narasi yang tidak komprehensif," kata Surya.
Bila dilihat dari sisi fundamental ekonomi, Surya menilai ekonomi Indonesia masih baik.
Merujuk data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berturut-turut positif, dimana triwulan I 2026 mencapai 5,61%, diikuti triwulan IV 2025 5,39%, dan triwulan III 2025 5,04%.
"Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan Dolar Amerika Serikat tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," jelas Dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini.
Terkait pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut rakyat di desa tak memakai dolar, Surya menjelaskan bahwa itu merupakan fakta lapangan.
Baca Juga: Rupiah Turun ke Rp17.667 Usai Pasar Cemaskan Selat Hormuz dan BI Rate
Secara praktik, transaksi yang menggunakan Dolar Amerika Serikat lebih banyak dilakukan oleh pengusaha yang bergerak pada bidang ekspor dan impor, bukan rakyat desa.
"Kegiatan ekspor-impor dan investasi valuta asing ini tentunya lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang hidup di daerah perkotaan dibandingkan masyarakat pedesaan," terangnya.
Meski begitu, menurut Surya, mitigasi telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak negatif pelemahan rupiah bagi warga desa.
Salah satunya dengan meningkatkan subsidi BBM sehingga masyarakat tak mengalami lonjakan harga berlebihan.
"Pemerintah telah melakukan langkah antisipasi strategis dengan meningkatkan subsidi agar kenaikan harga BBM bisa diredam, sehingga masyarakat Indonesia bisa tetap menikmati harga BBM seperti sedia kala," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini





