Mantap! OJK Rampungkan 4 Agenda Transparansi Bursa

AKURAT.CO Otoritas pasar modal Indonesia menuntaskan empat agenda utama penguatan transparansi yang menjadi bagian dari reformasi struktural pasar saham domestik.
Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan kredibilitas dan menarik minat investor global.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), mengumumkan telah menuntaskan empat agenda transparansi pasar modal yang sebelumnya diajukan kepada penyedia indeks global seperti MSCI.
Baca Juga: OJK Realisasikan 4 Inisiatif Transformasi Pasar Modal, Kejar Pengakuan MSCI dan FTSE
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi menyatakan, langkah ini merupakan bagian dari delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal yang diluncurkan pada 1 Februari 2026.
“Dengan demikian, empat proposal yang diajukan oleh pihak Indonesia kepada Global Index Providers sudah diselesaikan dan tuntaskan sesuai target yang dicanangkan. Selanjutnya, kami akan melanjutkan komunikasi dan engagement yang konstruktif dengan Global Index Providers, serta menghimpun feedback dari kalangan investor,” ujar Hasan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Empat agenda yang telah diselesaikan mencakup penyediaan data kepemilikan saham di atas 1% kepada publik, implementasi pengumuman High Shareholding Concentration (HSC).
Kemudian peningkatan granularitas klasifikasi investor dalam data KSEI menjadi 39 kategori, serta kenaikan batas minimum free float menjadi 15% melalui revisi aturan BEI.
Selain itu, regulator juga memperkuat transparansi melalui pengaturan ketersediaan data pemilik manfaat (beneficial owner) untuk pemegang saham dengan kepemilikan minimal 10%.
Baca Juga: Ekonomi Syariah Hanya Tumbuh di Ramadan, Bos OJK: Harus Bergerak Sepanjang Tahun
Langkah ini dinilai sejalan dengan praktik global, bahkan dalam beberapa aspek melampaui standar internasional, terutama dalam keterbukaan data kepemilikan saham di atas 1%.
Dari sisi konteks, reformasi ini merupakan respons terhadap kebutuhan peningkatan kualitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu transparansi dan likuiditas menjadi perhatian utama lembaga indeks global seperti MSCI dalam menilai kelayakan suatu pasar untuk masuk kategori emerging atau advanced emerging market.
Data BEI menunjukkan, per 2025 jumlah investor pasar modal Indonesia telah melampaui 12 juta Single Investor Identification (SID), meningkat signifikan dibandingkan sekitar 2,5 juta pada 2019.
Namun, likuiditas dan kedalaman pasar masih menjadi tantangan, tercermin dari konsentrasi kepemilikan saham pada emiten tertentu.
Implementasi kebijakan seperti free float minimum 15% menjadi krusial untuk meningkatkan porsi saham yang beredar di publik, sehingga transaksi lebih aktif dan menciptakan harga yang lebih mencerminkan kondisi pasar (price discovery).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









