Akurat

Rekomendasi Saham yang Berpotensi Naik setelah Reshuffle Kabinet Prabowo

Naufal Lanten | 24 September 2025, 12:49 WIB
Rekomendasi Saham yang Berpotensi Naik setelah Reshuffle Kabinet Prabowo
 

AKURAT.CO Reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto memicu perhatian besar pelaku pasar, terutama setelah Sri Mulyani Indrawati resmi digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.
Perubahan ini menjadi titik penting karena arah kebijakan fiskal ke depan akan sangat menentukan pertumbuhan ekonomi sekaligus memengaruhi dinamika pasar modal.

Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menegaskan bahwa pergantian Menteri Keuangan menjadi fokus utama.
“Sejak 2016, Sri Mulyani dikenal menekankan disiplin fiskal dan transparansi anggaran. Dengan pergantian ini, mandat Presiden kepada Menteri Keuangan baru adalah mempercepat pencapaian pertumbuhan ekonomi 8%,” jelas Rully dalam acara Media Day: September 2025 by Mirae Asset bertema New Economic Policy: Impact on Growth and Capital Market pada 23 September 2025.


Pergeseran Arah Kebijakan Fiskal

Menurut Rully, publik akan melihat kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dibanding era Sri Mulyani. Pemerintah diperkirakan akan mengutamakan kebijakan pro-growth dengan target pertumbuhan ekonomi ambisius di level 8%.
Beberapa langkah yang menjadi sorotan pasar antara lain:

  • Belanja Pemerintah Lebih Besar: Peningkatan pengeluaran negara untuk mendukung program prioritas, termasuk penyaluran dana kredit ke bank-bank BUMN senilai Rp 200 triliun.

  • Optimalisasi Peran Swasta dan Pemerintah: Dorongan lebih kuat bagi investasi dan konsumsi agar roda ekonomi bergerak lebih cepat.

  • Pergeseran dari Disiplin Fiskal: Kebijakan fiskal tidak lagi sekadar fokus pada pengendalian defisit, tetapi diarahkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Walaupun Purbaya memiliki latar belakang sebagai ekonom dan mantan pejabat BUMN, pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai komitmen terhadap disiplin fiskal, transparansi anggaran, dan sumber pembiayaan program prioritas pemerintah.


Implikasi ke Pasar Modal: Volatilitas Jangka Pendek

Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif diperkirakan akan menciptakan volatilitas di pasar modal, baik saham maupun obligasi.
“Pasar masih menantikan kepastian apakah kebijakan ekspansif ini akan tetap menjaga keberlanjutan fiskal. Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan indeks saham dan meningkatkan volatilitas pasar obligasi,” ungkap Rully.

Mirae Asset memprediksi bahwa pelemahan pasar saham masih mungkin berlanjut dalam jangka pendek. Meski demikian, kondisi ini justru bisa menjadi peluang bagi investor untuk buy on weakness, alias membeli saham pilihan saat harga terkoreksi.


Saham Pilihan Mirae Asset di Tengah Konsolidasi

Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, Mirae Asset merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai memiliki prospek menarik, baik karena dukungan kebijakan pemerintah maupun potensi pertumbuhan sektor terkait.
Sektor perbankan, khususnya bank-bank BUMN, menjadi perhatian utama karena akan menerima manfaat langsung dari penyaluran dana Rp 200 triliun. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi risiko kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan).

Selain sektor perbankan, beberapa saham lain yang direkomendasikan Mirae Asset antara lain:

  • TLKM (Telkom Indonesia) – Stabil di tengah pertumbuhan kebutuhan layanan digital.

  • TOWR (Sarana Menara Nusantara) dan MTEL (Dayamitra Telekomunikasi) – Diuntungkan ekspansi infrastruktur telekomunikasi.

  • JPFA (Japfa Comfeed Indonesia) – Prospek positif seiring pemulihan konsumsi domestik.

  • KLBF (Kalbe Farma) – Tetap kuat sebagai emiten kesehatan dengan permintaan produk yang konsisten.

  • BRPT (Barito Pacific) – Potensi pertumbuhan di sektor energi dan petrokimia.


Peluang di Balik Ketidakpastian

Meski pasar saham diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, kebijakan pro-growth pemerintah dapat menjadi katalis positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Investor disarankan tetap mencermati perkembangan kebijakan fiskal, khususnya arah pembiayaan program prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa.

Bagi investor yang mampu memanfaatkan momentum, fase konsolidasi ini bisa menjadi kesempatan untuk menambah portofolio saham unggulan sebelum pasar kembali pulih.

Baca Juga: Kinerja Membaik, Saham GOTO Ditaksir Menuju Rp100

Baca Juga: Saham Teknologi AS Stabil Usai Trump Umumkan Biaya Baru Visa H-1B


FAQ

1. Mengapa pergantian Menteri Keuangan menjadi perhatian utama pasar?
Pergantian dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa penting karena akan menentukan arah kebijakan fiskal Indonesia ke depan. Kebijakan fiskal berpengaruh langsung pada pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, dan kondisi pasar modal.

2. Apa perbedaan kebijakan fiskal Purbaya Yudhi Sadewa dibanding Sri Mulyani?
Sri Mulyani dikenal menekankan disiplin fiskal dan transparansi anggaran. Sementara itu, Purbaya diprediksi membawa kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan pro-growth, dengan target pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 8%.

3. Apa dampak kebijakan fiskal ekspansif terhadap pasar saham dan obligasi?
Kebijakan yang lebih ekspansif dapat meningkatkan belanja pemerintah dan investasi, namun juga memicu ketidakpastian soal keberlanjutan fiskal. Hal ini bisa menahan pergerakan indeks saham dan menambah volatilitas di pasar obligasi.

4. Apakah saat ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di pasar saham?
Menurut Mirae Asset, koreksi jangka pendek justru bisa menjadi peluang bagi investor untuk melakukan buy on weakness, yaitu membeli saham pilihan saat harga terkoreksi, terutama pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat.

5. Sektor saham apa yang direkomendasikan Mirae Asset?
Mirae Asset merekomendasikan sektor perbankan, khususnya bank-bank BUMN yang akan menerima penyaluran dana Rp 200 triliun. Selain itu, saham TLKM, TOWR, MTEL, JPFA, KLBF, dan BRPT juga dinilai menarik di tengah fase konsolidasi pasar.

6. Apa risiko yang perlu diwaspadai investor?
Investor perlu mencermati potensi kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan) di sektor perbankan, serta menunggu kepastian mengenai sumber pembiayaan program prioritas pemerintah agar kebijakan ekspansif tidak mengganggu stabilitas fiskal.

7. Bagaimana prospek jangka panjang pasar modal Indonesia?
Jika kebijakan pro-growth pemerintah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% dan tetap menjaga keberlanjutan fiskal, pasar modal Indonesia berpotensi mengalami penguatan dalam jangka menengah hingga panjang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.