Mengapa Banyak Orang Gagal Menabung? Ini Penjelasan Pakar Keuangan
Hefriday | 14 September 2025, 17:28 WIB

AKURAT.CO Belakangan ini, berbagai tantangan menabung tengah populer di kalangan masyarakat, mulai dari no-spend challenge hingga komitmen memotong pengeluaran harian.
Tujuannya sederhana, yakni mengumpulkan uang dengan cara yang menyenangkan. Namun, tak sedikit orang yang justru merasa frustrasi dan akhirnya berhenti di tengah jalan.
Dilansir Yahoo Finance, Minggu (14/9/2025), sejumlah pakar keuangan menilai ada berbagai faktor yang membuat tantangan menabung sering kali gagal.
Mulai dari target yang terlalu tinggi, godaan kepuasan instan, hingga pengeluaran tak terduga, semua dapat mengacaukan rencana keuangan seseorang. Bahkan, meskipun tren ini ramai diikuti, hasilnya belum tentu cocok untuk semua orang.
Menurut Pakar keuangan pribadi dari Coupon Snake, Aaron Razon, kesalahan terbesar peserta tantangan menabung adalah menetapkan target yang terlalu ambisius. Hal tersebut membuat seseorang mudah kehilangan konsistensi karena merasa pencapaiannya tidak sebanding dengan usahanya.
Menurut Pakar keuangan pribadi dari Coupon Snake, Aaron Razon, kesalahan terbesar peserta tantangan menabung adalah menetapkan target yang terlalu ambisius. Hal tersebut membuat seseorang mudah kehilangan konsistensi karena merasa pencapaiannya tidak sebanding dengan usahanya.
“Akhirnya, mereka berhenti sebelum mencapai tujuan akhir,” ujarnya.
Selain itu, masalah lain yang kerap muncul adalah ketiadaan kepuasan instan. Melanie Musson, pakar keuangan di Clearsurance.com, menjelaskan bahwa tantangan menabung membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak langsung terasa.
Selain itu, masalah lain yang kerap muncul adalah ketiadaan kepuasan instan. Melanie Musson, pakar keuangan di Clearsurance.com, menjelaskan bahwa tantangan menabung membutuhkan kesabaran karena hasilnya tidak langsung terasa.
“Diperlukan pengendalian diri jangka panjang sebelum seseorang benar-benar merasakan keberhasilan,” katanya. Bila hasilnya tak kunjung terlihat, motivasi pun bisa menurun drastis.
Aspek emosional juga memainkan peran penting. Musson menambahkan, perasaan kehilangan akibat pembatasan pengeluaran kerap membuat orang menyerah.
Aspek emosional juga memainkan peran penting. Musson menambahkan, perasaan kehilangan akibat pembatasan pengeluaran kerap membuat orang menyerah.
“Jika seseorang merasa berhasil, ia akan termotivasi melanjutkan. Tetapi bila merasa terlalu banyak berkorban, godaan untuk berhenti akan semakin besar,” jelasnya.
Razon juga menyoroti kecenderungan sebagian orang hanya mengikuti tren tanpa memahami strategi yang jelas. Tantangan menabung yang bersifat viral sering kali membuat orang terjebak pada pola “ikut-ikutan” tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi pribadi.
Razon juga menyoroti kecenderungan sebagian orang hanya mengikuti tren tanpa memahami strategi yang jelas. Tantangan menabung yang bersifat viral sering kali membuat orang terjebak pada pola “ikut-ikutan” tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi pribadi.
“Akibatnya, begitu ada hambatan kecil, mereka mudah menyerah,” katanya.
Masalah lain adalah kurangnya kebiasaan yang konsisten. Menurut Razon, banyak orang jarang bertanya kepada diri sendiri mengapa mereka ingin menabung.
Masalah lain adalah kurangnya kebiasaan yang konsisten. Menurut Razon, banyak orang jarang bertanya kepada diri sendiri mengapa mereka ingin menabung.
“Tanpa tujuan yang jelas, mudah bagi seseorang untuk mengabaikan rencana menabung, apalagi ketika muncul kebutuhan mendadak,” ujarnya.
Selain itu, konsep “satu format untuk semua” dalam tantangan menabung dinilai tidak realistis. Musson mencontohkan larangan penuh, seperti tidak boleh makan di luar selama tiga bulan, justru membuat peserta cepat menyerah.
Selain itu, konsep “satu format untuk semua” dalam tantangan menabung dinilai tidak realistis. Musson mencontohkan larangan penuh, seperti tidak boleh makan di luar selama tiga bulan, justru membuat peserta cepat menyerah.
“Begitu seseorang melanggar sekali, mereka merasa gagal total dan berhenti sepenuhnya,” ungkapnya.
Faktor eksternal berupa pengeluaran tak terduga juga menjadi penyebab umum gagalnya tantangan menabung.
Faktor eksternal berupa pengeluaran tak terduga juga menjadi penyebab umum gagalnya tantangan menabung.
Musson menekankan bahwa biaya mendadak, seperti perbaikan kendaraan atau biaya kesehatan, bisa langsung menggerus tabungan yang sudah terkumpul berbulan-bulan. Kondisi ini membuat banyak orang enggan untuk memulai kembali.
Meski begitu, kegagalan dalam tantangan menabung bukan berarti seseorang tidak bisa membangun kebiasaan finansial yang sehat. Para ahli merekomendasikan strategi yang lebih berkelanjutan.
Meski begitu, kegagalan dalam tantangan menabung bukan berarti seseorang tidak bisa membangun kebiasaan finansial yang sehat. Para ahli merekomendasikan strategi yang lebih berkelanjutan.
Sabino Vargas, penasihat keuangan senior di Vanguard, menyarankan otomatisasi tabungan agar sebagian penghasilan langsung tersimpan sebelum digunakan untuk belanja.
“Dengan begitu, kerja keras dari proses menabung bisa diminimalisir,” ujarnya.
Selain otomatisasi, Vargas juga menyarankan untuk bermitra dengan penasihat keuangan. Riset Vanguard menunjukkan bahwa 86% orang yang memiliki penasihat merasa lebih tenang secara finansial. Tak hanya itu, mereka juga dapat lebih fokus pada hal-hal penting dalam hidup.
Terakhir, pakar keuangan menekankan pentingnya membangun pola pikir kesejahteraan jangka panjang. Alih-alih mencari solusi cepat melalui tantangan yang sifatnya musiman, masyarakat dianjurkan untuk menumbuhkan kebiasaan keuangan yang konsisten.
Selain otomatisasi, Vargas juga menyarankan untuk bermitra dengan penasihat keuangan. Riset Vanguard menunjukkan bahwa 86% orang yang memiliki penasihat merasa lebih tenang secara finansial. Tak hanya itu, mereka juga dapat lebih fokus pada hal-hal penting dalam hidup.
Terakhir, pakar keuangan menekankan pentingnya membangun pola pikir kesejahteraan jangka panjang. Alih-alih mencari solusi cepat melalui tantangan yang sifatnya musiman, masyarakat dianjurkan untuk menumbuhkan kebiasaan keuangan yang konsisten.
Dengan cara ini, tabungan dapat berkembang lebih stabil dan mendukung tujuan finansial di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









