AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelemahan signifikan pada sejumlah saham selama periode perdagangan 30 Juni hingga 4 Juli 2025.
Sepuluh saham tercatat masuk dalam daftar top losers atau saham dengan penurunan harga paling dalam, dengan PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) berada di posisi teratas. Saham bank ini terjungkal hingga 25% dalam sepekan.
Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (6/7/2025), pelemahan NOBU membuat harga sahamnya merosot tajam dari level Rp800 menjadi hanya Rp600 per lembar. Koreksi ini menandai penurunan terbesar di antara semua saham yang tercatat selama pekan tersebut.
Selain NOBU, saham lain yang juga terpukul keras adalah PT Cipta Selera Murni Tbk. (CSMI), yang ambles hingga 24,9% menjadi Rp1.295. CSMI, yang bergerak di sektor restoran dan makanan cepat saji, kemungkinan besar terdampak oleh tekanan daya beli masyarakat yang masih tertahan akibat tekanan ekonomi makro.
PT Colorpak Indonesia Tbk. (CLPI) juga mencatatkan penurunan sebesar 17,4% ke level Rp1.110. CLPI merupakan emiten yang bergerak di industri kemasan dan pewarnaan, dan penurunan ini diprediksi terkait dengan volatilitas biaya bahan baku serta melemahnya permintaan dari sektor manufaktur.
Tak kalah signifikan, saham PT Bank Permata Tbk. (BNLI) merosot 16,8% menjadi Rp2.710. Koreksi harga BNLI cukup mengejutkan mengingat sektor perbankan tengah menjadi sorotan positif menyusul ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan. Namun, pelemahan ini bisa saja dipengaruhi oleh aksi profit taking setelah penguatan harga sebelumnya.
Saham PT Sumber Sinergi Makmur Tbk. (IOTF) juga terseret turun sebesar 16,8% menjadi Rp89 per saham. Penurunan saham perusahaan ini menunjukkan kekhawatiran investor terhadap prospek bisnisnya di tengah ketatnya persaingan pasar.
Daftar top losers dilengkapi oleh PT Perdana Gapuraprima Tbk. (GPRA), yang anjlok 16,1% menjadi Rp130. GPRA yang bergerak di bidang properti dan pembangunan perumahan diduga terdampak oleh lesunya sektor real estate serta tingginya suku bunga kredit perumahan yang menahan minat beli konsumen.
Emiten lainnya, PT Charnic Capital Tbk. (NICK), mencatatkan penurunan sebesar 14,4% menjadi Rp1.240. Sebagai perusahaan investasi, penurunan ini bisa mencerminkan portofolio investasi yang kurang optimal atau minimnya aksi korporasi positif.
Saham PT Steady Safe Tbk. (SAFE), perusahaan jasa transportasi darat, juga tak luput dari tekanan. Harga saham SAFE turun 14% menjadi Rp208. Sektor transportasi masih tertekan akibat tingginya biaya operasional dan persaingan yang semakin ketat dari moda transportasi digital.
Sementara itu, PT MPX Logistics Tbk. (MPXL), emiten logistik, turun 11,6% menjadi Rp114. Pelemahan saham ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap efisiensi rantai pasok dan digitalisasi logistik yang membuat perusahaan harus beradaptasi dengan cepat.
Terakhir, saham PT Sumber Energi Andalan Tbk. (ITMA) melemah sebesar 11,4% menjadi Rp735. Sebagai perusahaan energi, ITMA kemungkinan terdampak oleh volatilitas harga komoditas dan belum adanya sentimen baru yang mendongkrak minat investor.
Secara umum, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan ikut melemah 0,47% ke level 6.865,1 dari 6.897,4 pada pekan sebelumnya. Penurunan ini turut menyeret kapitalisasi pasar menjadi Rp12.070 triliun dari sebelumnya Rp12.098 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga menurun drastis sebesar 21% menjadi Rp10,39 triliun.
Dari sisi frekuensi transaksi harian, BEI mencatat penurunan sebesar 12,24% menjadi 1,05 juta kali transaksi, sedangkan volume perdagangan turut menyusut 12,18% menjadi 19,44 miliar saham. Kondisi ini mencerminkan melemahnya minat pelaku pasar untuk bertransaksi, yang dipicu oleh tingginya ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.
Investor asing turut mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp465,75 miliar pada Jumat (4/7/2025). Akumulasi net sell sepanjang tahun berjalan mencapai Rp55,99 triliun, naik 5,2% dari Rp53,21 triliun pada pekan sebelumnya. Tekanan ini memperparah koreksi di sejumlah saham unggulan maupun second liner.
Melihat kondisi pasar yang cenderung lesu, investor disarankan tetap selektif dalam memilih saham dan mengutamakan fundamental perusahaan yang solid. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi, sehingga strategi defensif seperti wait and see dan alokasi aset yang lebih konservatif bisa menjadi pilihan yang bijak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang










