Kritik Danantara soal PMN, Legislator: Harus Ada Sinkronisasi Kebijakan

AKURAT.CO Anggota Komisi VI DPR RI, Mulyadi, menyoroti soal kebijakan Danantara yang menyatakan tidak akan lagi menyalurkan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Oleh karena itu, dirinya menegaskan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara Danantara, Kementerian BUMN, dan para direksi BUMN agar tidak terjadi kekosongan pembiayaan terhadap proyek-proyek strategis nasional.
"Saya membaca pernyataan bahwa Danantara menyatakan tidak ada lagi PMN. Sementara, per hari ini, setoran dividen BUMN yang masuk ke rekening Danantara sudah hampir Rp80 triliun. Ini harus dipertanyakan, karena dana tersebut bisa menjadi 'idle fund' yang tidak bergerak secara optimal," jelas Mulyadi, dikutip Rabu (25/6/2025).
Baca Juga: Menuju Indonesia Emas 2045, Komisi IV: Revisi UU Pangan Sangat Krusial
Padahal menurutnya, banyak proyek yang masih dalam tahap 'greenfield' atau kajian awal, sehingga belum siap secara komersial. Dalam kondisi tersebut, absennya PMN dapat membuat BUMN kesulitan menjalankan mandat strategisnya.
"Kalau Danantara menutup pintu PMN, sementara proyek masih membutuhkan sokongan modal, akan muncul gap pembiayaan. Harus ada sinkronisasi agar negara tidak mengalami 'opportunity loss' karena dana dividen hanya mengendap,” terangnya.
Maka dari itu, Mulyadi mendorong agar Kementerian BUMN sebagai regulator tidak bersikap pasif dan justru memperjelas posisi serta strategi pendanaan BUMN ke depan.
"Kita tidak bisa biarkan dualisme terjadi. Negara harus clear and clean dalam kebijakan investasi, baik melalui APBN maupun mekanisme Danantara," imbuhnya.
Dalam konteks situasi ekonomi global yang tidak menentu, Mulyadi memperingatkan bahwa setiap langkah kebijakan fiskal dan investasi harus diperhitungkan secara matang.
"BUMN adalah pilar fiskal dan ekonomi kita. Jika mereka tidak punya ruang fiskal atau akses pendanaan memadai, maka kemampuan mereka menjaga ketahanan ekonomi juga terganggu," tegas Mulyadi.
Baca Juga: Ketua Komisi IV Soroti Minimnya Anggaran KKP di Tengah Tarif Trump
Lebih jauh, ia mendorong agar direksi dan komisaris BUMN tidak sekadar menjalankan fungsi administratif atau seremonial. "Ini saatnya kerja konkret. Jangan hanya sibuk pencitraan, tapi harus ada improvisasi dan inovasi yang benar-benar berdampak pada kekuatan ekonomi nasional," pungkas Mulyadi.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menyatakan pihaknya kini memiliki wewenang untuk memberikan suntikan modal kepada BUMN.
Adanya kebijakan ini membuat PMN yang diberikan melalui mekanisme anggaran negara ditiadakan. Dirinya pun memastikan pemberian suntikan modal kepada BUMN akan melewati proses yang berlapis dan ketat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









