Israel Minta Bantuan AS Lawan Iran, Rupiah Ditutup Ambruk 93 Poin

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 93,5 (0,57%) poin ke level Rp16.406 pada perdagangan Kamis (19/6/2025). Usut punya usut, sentimen geopolitik yang memanas jadi pemicu utamanya.
Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, sentimen datang dari benua Amerika.
Dikabarkan bahwa pejabat senior AS sedang mempersiapkan serangan potensial terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang. Washington mungkin memposisikan diri untuk terlibat langsung dalam konflik Israel-Iran, kata laporan itu. Meskipun rencana masih belum pasti, beberapa pejabat menunjuk akhir pekan sebagai kemungkinan waktu untuk bertindak.
"Presiden Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa ia memiliki "ide" tetapi akan memutuskan pada saat-saat terakhir. Ia mengatakan bahwa ia mungkin akan menyerang Iran atau tidak, dan menyatakan bahwa Iran sangat ingin terlibat dalam perundingan," ujar Ibrahim, Kamis (19/6/2025).
Laporan Wall Street Journal sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Trump memberi tahu para pembantu seniornya pada Selasa malam bahwa ia telah menyetujui rencana untuk menyerang Iran tetapi menghentikan tindakan tersebut untuk melihat apakah Teheran akan mundur dari ambisi nuklirnya.
Federal Reserve mempertahankan suku bunga kebijakan utamanya tetap pada 4,25%–4,50% pada hari Rabu, mempertahankan ekspektasi untuk dua kali pemotongan suku bunga seperempat poin akhir tahun ini.
Baca Juga: Rupiah Nanjak 73 Poin ke Rp16.253 di Tengah Eskalasi Perang Dagang AS-China
Ketua Jerome Powell menekankan bahwa inflasi harga barang kemungkinan akan meningkat musim panas ini karena tarif yang baru-baru ini diberlakukan oleh Presiden Trump mulai melewati rantai pasokan ke konsumen.
The Fed memproyeksikan laju pelonggaran yang lebih lambat ke depannya, memperkirakan suku bunga akan turun menjadi 3,6% pada tahun 2026, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,4%. Untuk tahun 2027, ia melihat suku bunga pada 3,4%, direvisi naik dari 3,1%.
Sentimen Internal
Dari sisi internal, berita pencairan gaji ke-13 ASN dan beberapa insentif pemerintah yang direncanakan pada Juni 2025 diperkirakan akan memberi dorongan yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025, namun perang di timur tengah antara Israel dan Iran yang terus terjadi akan menjadi batu sandungan bagi ekonomi indonesia.
Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 diperkirakan masih dibawah 5% secara tahunan atau year on year (YoY). kondisi pertumbuhan ekonomi saat ini berada di kisaran 4,8%.
Guna untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, maka paket insentif yang akan diluncurkan, diharapkan bisa mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang merupakan kontributor utama untuk pertumbuhan ekonomi, yaitu sekitar 55%.
Jika insentif ini berjalan dengan baik, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa melonjak dari 4,8% menjadi angka yang lebih tinggi, meski durasi dan besaran insentif juga akan berpengaruh. Jika insentif hanya berjalan selama dua bulan, maka dampaknya akan sangat terbatas.
Selain konsumsi masyarakat, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan juga dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk investasi, ekspor, dan impor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









