Ekonom Perbanas Taksir Kredit Perbankan Tumbuh 10,6-11,6 Persen di 2025
Hefriday | 26 Maret 2025, 22:26 WIB

AKURAT.CO Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang tahun 2025 berada pada level 10,6% surplus 1,0% secara tahunan (year on year/yoy).
Angka ini sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan pertumbuhan kredit di rentang 11%–13% (yoy).
"Proyeksi ini sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 8 persen tahun ini," ujar Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan (PKEP) Perbanas, Aviliani, dalam keterangannya, Rabu (26/3/2025).
Meskipun ada optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi, Aviliani mengingatkan bahwa masih ada beberapa faktor yang dapat menjadi penghambat laju kredit perbankan.
"Daya beli masyarakat masih lemah di sisi demand, sementara dari sisi supply, likuiditas semakin ketat," jelasnya.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang tinggi, tetapi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru melambat.
Selain faktor struktural seperti daya beli, Aviliani menyoroti faktor ketidakpastian yang turut mempengaruhi pertumbuhan kredit.
Ia mencontohkan bahwa pertumbuhan kredit pada 2023 lebih rendah dibandingkan 2024 karena banyak pelaku ekonomi memilih untuk menunggu hasil Pemilihan Presiden 2024.
"Setelah Prabowo dipastikan menang satu putaran pada Februari 2024, pertumbuhan kredit kembali stabil dan tumbuh double digit," ungkapnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata pertumbuhan kredit sepanjang 2024 tercatat 10,4% (yoy).
Namun, pada Januari 2025, pertumbuhan kredit hanya mencapai 10,3% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbanas berharap momentum bulan Ramadan tahun ini dapat mendongkrak pertumbuhan kredit, sebagaimana yang terjadi pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
"Biasanya, pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada bulan Maret–April, berkisar 12 persen sampai 13 persen," jelas Aviliani.
Ia juga menjelaskan bahwa siklus kredit masyarakat biasanya dipengaruhi oleh tiga periode utama, yaitu Ramadan dan Idul Fitri, awal tahun ajaran baru (Juni–Juli), serta Natal dan Tahun Baru.
Pada periode-periode ini, konsumsi masyarakat cenderung meningkat, sehingga permintaan kredit juga ikut naik.
"Pada Ramadan, pertumbuhan kredit konsumsi secara bulanan (month to month/mtm) biasanya naik cukup signifikan. Bahkan, pada 2024, kenaikan kredit konsumsi di periode ini mencapai 1,47 persen (mtm), yang merupakan angka tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya," paparnya.
Namun, setelah Idul Fitri, pola konsumsi masyarakat cenderung turun drastis, menyebabkan pertumbuhan kredit juga ikut melemah.
"Setelah Lebaran, masyarakat lebih banyak mengurangi konsumsi, dan ini berimbas pada penurunan kredit konsumsi secara bulanan," tambah Aviliani.
Hal serupa juga terjadi pada periode sebelum tahun ajaran baru dan setelah libur Natal serta Tahun Baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









