Waduh! Warga Singapura Ragu Anggaran 2025 Mampu Naikkan Biaya Hidup

AKURAT.CO Mayoritas warga Singapura merasa kebijakan anggaran terbaru yang diumumkan pemerintah belum cukup untuk membantu mereka menghadapi lonjakan biaya hidup.
Hal tersebut terungkap dalam survei yang dilakukan Milieu Insight dikutip dari laman Bloomberg. Dimana sebanyak 55% responden menilai bahwa anggaran belanja negara senilai hampir SGD124 miliar atau sekitar USD92,8 miliar tidak akan cukup untuk menekan kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti makanan dan perumahan.
Usut punya usut, anggaran tersebut diumumkan secara langsung oleh Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong pada 18 Februari 2025 lalu, dimana Wong memprediksi Singapura akan kembali mengalami surplus fiskal tahun ini.
Namun sayangnya, warga masih merasa terbebani dengan harga barang dan jasa yang semakin mahal.
Baca Juga: Singapura Ingin Impor Listrik RI, Bahlil Sebut Syaratnya Investasi ke Sektor Hilirisasi
Sedangkan jika mengacu kepada data ekonomi milik Singapura, inflasi inti di Singapura nampaknya tidak memasukkan biaya perumahan dan transportasi pribadi yang tampaknya memang sudah mulai melambat.
Sebab pada Desember 2024 lalu, inflasi inti tercatat sebesar 1,8% dibandingkan tahun sebelumnya, hal tersebut merupakan laju paling rendah sejak 2021. Meskipun begitu, pertumbuhan ekonomi negara tersebut diprediksi hanya akan mencapai 1%-3% di tahun 2025, jauh lebih rendah dibandingkan 4,4% di tahun sebelumnya.
Paket Bantuan dari Pemerintah, Apakah Sudah Cukup?
Seperti yang dikutip dari laman Bloomberg, dalam anggaran terbaru Singapura tersebut, pemerintah menawarkan berbagai bantuan untuk meringankan beban warga. Beberapa di antaranya termasuk:
Seperti halnya voucher belanja senilai SGD800 untuk setiap rumah tangga, naik dari SGD600 tahun lalu. Kemudian pemberian pemotongan pajak untuk keluarga dengan anak-anak, bantuan tambahan bagi warga berpenghasilan rendah dan lansia.
Baca Juga: Gawat, Turis Indonesia ke Singapura Turun Drastis di 2024!
Namun, bantuan tersebut belum cukup meyakinkan mayoritas warga. Jajak pendapat yang sama tahun lalu menunjukkan bahwa 62% responden menilai kebijakan anggaran tidak cukup membantu menghadapi kenaikan biaya hidup. Tahun ini, angka tersebut sedikit menurun, tetapi tetap lebih dari separuh warga masih skeptis.
Sebagai informasi, hasil survei yang dilakukan secara online oleh Milieu Insight pada 19-21 Februari 2025 lalu. Dimana lembaga riset tersebut mendapatkan beragam hasil, ketika ditanya apakah anggaran 2025 membuat mereka (warga Singapura) lebih percaya terhadap pengelolaan biaya hidup oleh pemerintah, hasilnya cukup terbagi, diantaranya yakni sebanyak 47% responden menyatakan setuju, 37% memilih netral dan sisanya sekitar 16% tidak setuju.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor PSG vs Barcelona, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 4Polemik Ijazah Gibran Memanas, Hasan Nasbi Ungkap Sikap Pemerintah
- 5Kalender Jawa 19 Oktober 2026: Watak Weton Senin Wage Dikenal Jujur dan Tenang
- 6Jalur Alternatif Demo Jakarta Hari Ini 20 Oktober 2026, Cek Rute Pengalihan Arus!
- 7Djarot Pilih Hak Menyatakan Pendapat soal Ijazah Gibran, Kenapa Bukan Hak Angket?
- 8Demo Hari Ini 20 Oktober 2026: Apa Saja 5 Tuntutan yang Dibawa Mahasiswa?
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa









