AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Jumat (17/1/2025) di level 7.154, naik 47,13 poin atau 0,66% dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan ini menunjukkan optimisme investor meskipun sejumlah sektor masih mencatatkan penurunan.
Mengutip data RTI Infokom, nilai transaksi yang tercatat pada perdagangan hari ini mencapai Rp11,50 triliun dengan total volume sebanyak 21,52 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 240 saham mengalami penguatan, sementara 330 saham melemah, dan 236 lainnya stagnan.
Kenaikan IHSG kali ini didukung oleh penguatan di empat dari 11 indeks sektoral. Sektor teknologi memimpin kenaikan dengan lonjakan 1,24%. Sementara itu, tujuh sektor lainnya justru mencatatkan penurunan, dengan sektor kesehatan menjadi yang paling terdampak setelah melemah sebesar 1,39%.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menghijau, Saham Perbankan Jadi Top Gainers
Sektor teknologi terus menjadi sorotan karena daya tariknya yang tinggi di kalangan investor, terutama dengan pertumbuhan perusahaan berbasis digital di Indonesia. Di sisi lain, sektor kesehatan menghadapi tekanan akibat aksi ambil untung setelah mencatatkan reli beberapa waktu terakhir.
Penguatan IHSG juga sejalan dengan bursa saham di kawasan Asia yang didominasi oleh tren positif. Indeks Straits Times di Singapura naik 0,17%, indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 0,31%, dan indeks Shanghai Composite di China turut bertambah 0,18%. Namun, indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi pengecualian dengan penurunan sebesar 0,31%.
Kinerja positif di bursa Asia dipengaruhi oleh optimisme investor terhadap data ekonomi terbaru serta kebijakan moneter yang mendukung pasar. Meskipun demikian, volatilitas di beberapa pasar masih membayangi pergerakan indeks.
Beralih ke bursa Eropa, indeks saham di kawasan ini mencatatkan kenaikan serempak. Indeks FTSE 100 di Inggris menguat 0,97%, sementara indeks DAX di Jerman naik 0,59%. Sentimen positif ini didorong oleh laporan pendapatan perusahaan besar yang melampaui ekspektasi pasar.
Kinerja solid di Eropa juga didukung oleh stabilitas harga energi serta kebijakan bank sentral yang dianggap investor tetap akomodatif. Prospek ekonomi di kawasan ini mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan meskipun tekanan inflasi masih menjadi perhatian.
Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat justru mengalami koreksi pada perdagangan terakhir pekan ini. Indeks Dow Jones melemah 0,16%, indeks S&P 500 turun 0,21%, dan indeks NASDAQ Composite tergelincir 0,89%.
Tekanan di Wall Street terjadi akibat kekhawatiran investor terhadap laporan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK










