Akurat

Penyebab Dolar AS Menguat dan Pasar Keuangan Global Tertekan

Hefriday | 14 Januari 2025, 12:49 WIB
Penyebab Dolar AS Menguat dan Pasar Keuangan Global Tertekan

AKURAT.CO Dolar AS terus berada di puncaknya, mendekati level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir. Penguatan ini terjadi di tengah pengurangan ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada 2025, setelah data ekonomi yang kuat muncul.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Inggris menempatkan poundsterling dalam sorotan negatif.  

Dengan Donald Trump akan kembali menjabat sebagai Presiden AS minggu depan, pasar tengah mengamati kebijakan ekonomi yang diprediksi akan mendorong pertumbuhan. Namun, analis memperingatkan bahwa langkah-langkah tersebut, seperti tarif impor baru, dapat memicu tekanan inflasi. 
 
 
Kebijakan ini, bersamaan dengan pendekatan hati-hati The Fed terhadap pelonggaran moneter, telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat dolar.  
 
Menurut Prashant Newnaha, ahli strategi di TD Securities, pasar kini mulai mengantisipasi bahwa tarif mungkin akan diterapkan secara bertahap. “Penurunan dolar semalam akibat laporan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tarif telah diperhitungkan sebelumnya,” ujar Newnaha, Selasa (14/1/2025).
 
Jika kekhawatiran ini terus berlanjut hingga pelantikan Trump, imbal hasil obligasi AS dan dolar kemungkinan akan menurun, sementara pasar saham AS berpotensi naik.  
 
Euro diperdagangkan stabil di USD1,02475, meski masih mendekati level terendah dua tahun di USD1,0177 yang dicapai awal pekan ini. Yen Jepang sedikit menguat menjadi JPY157,54 per dolar, menjauh dari level terendah enam bulan yang disentuh minggu lalu.  
 
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,16% ke level 109,59, mendekati level tertinggi 26 bulan di 110,17. Kekuatan dolar ini didukung oleh laporan tenaga kerja AS yang solid pada Jumat lalu, yang memperkuat pendekatan hati-hati The Fed terhadap pemotongan suku bunga lebih lanjut.  
 
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam 14 bulan di 4,799% sebelum kembali turun menjadi 4,7717% pada perdagangan awal Asia. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor masih memperhatikan data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu mendatang.  
 
Analis di ING menyebut bahwa kombinasi dolar yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi telah mengurangi aliran modal ke negara lain. Mereka memprediksi bahwa dolar akan tetap kuat sepanjang tahun ini, terutama dengan tekanan besar di pasar dolar/yuan.  
 
Bank Sentral China (PBoC) mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung yuan yang melemah. Langkah tersebut termasuk menempatkan lebih banyak dolar di Hong Kong dan memungkinkan perusahaan untuk meminjam lebih banyak dana dari luar negeri. Saat ini, yuan offshore diperdagangkan di CNY7,3465 per dolar, mencerminkan tekanan depresiasi yang semakin besar.   
 
Poundsterling terus berada dalam tekanan, diperdagangkan di USD1,2211 setelah mencapai USD1,21, level terendah sejak November 2023.
 
Sementara imbal hasil obligasi Inggris yang meningkat seharusnya mendukung pound, para analis memperkirakan bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memaksa pemerintah Inggris untuk membatasi pengeluaran atau menaikkan pajak, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi di masa depan.  
 
Dolar Australia naik tipis 0,13% menjadi USD0,6184 setelah menyentuh level terendah sejak April 2020 pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, dolar Selandia Baru juga menguat 0,3% ke USD0,55995, meski masih berada di dekat level terendah dua tahun yang dicapai sehari sebelumnya.  
 
Investor kini mengalihkan perhatian mereka pada laporan inflasi AS yang akan segera dirilis. Dengan inflasi yang masih berada di atas target The Fed sebesar 2%, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter semakin berkurang. The Fed sebelumnya memproyeksikan pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin, tetapi pasar saat ini hanya memperkirakan 29 basis poin.    
 
Tahun 2025 tampaknya akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi pasar global. Dengan kebijakan ekonomi AS di bawah pemerintahan Trump, langkah-langkah baru dari bank sentral dunia, dan tekanan inflasi yang terus berlanjut, investor perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.  
 
Namun, dengan peluang datang risiko, dan bagi mereka yang cermat membaca dinamika pasar, kondisi ini dapat menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan di tengah ketidakpastian global. Semua mata kini tertuju pada kebijakan The Fed, langkah PBoC, dan pelantikan Presiden Trump sebagai penentu arah pasar selanjutnya.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa