Ditekan Sentimen Eksternal, IHSG Ditutup Turun 1,02 Persen
Hefriday | 13 Januari 2025, 18:00 WIB

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada awal pekan, Senin (13/1/2025). Penurunan ini dipicu oleh laporan pekerjaan terbaru dari Amerika Serikat (AS) yang berpotensi meredam harapan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).
IHSG ditutup turun 1,02% atau 71,99 poin ke level 7.016,88 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak di zona merah sejak pembukaan hingga penutupan.
Total nilai transaksi mencapai Rp11,4 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 16,2 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,4 juta kali. Sebanyak 234 saham mencatatkan penguatan, 383 saham melemah, dan 186 saham stagnan.
Sebagian besar sektor menyeret IHSG ke zona negatif. Dari 11 sektor yang ada, delapan sektor mengalami penurunan, di antaranya:
- Sektor industri (-1,30%)
- Sektor keuangan (-1,21%)
- Sektor teknologi (-1,09%)
- Sektor transportasi dan logistik (-0,88%)
- Sektor infrastruktur (-0,74%)
- Sektor properti dan real estat (-0,70%)
- Sektor barang konsumsi nonprimer (-0,58%)
- Sektor barang konsumsi primer (-0,47%)
Di sisi lain, hanya tiga sektor yang mampu bertahan di zona hijau, yaitu:
- Sektor barang baku (+0,58%)
- Sektor kesehatan (+0,21%)
- Sektor energi (+0,10%)
Saham-saham unggulan di indeks LQ45 menunjukkan pergerakan beragam. Saham dengan kenaikan tertinggi adalah:
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) +7,14%
- PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) +4,69%
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) +4,61%
Sedangkan saham yang mencatatkan penurunan terbesar meliputi:
- PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) -4,56%
- PT Bank Jago Tbk (ARTO) -4,31%
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) -3,99%
Pelemahan IHSG tak lepas dari sentimen global, terutama setelah laporan pekerjaan AS yang dirilis pada akhir pekan lalu. Data menunjukkan lapangan kerja di AS bertambah 256.000 pada Desember 2024, jauh di atas ekspektasi sebesar 155.000. Tingkat pengangguran juga turun dari proyeksi 4,2% menjadi 4,1%.
Data ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun ke level tertinggi sejak akhir 2023. Kondisi tersebut meredam ekspektasi investor terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat.
Selain data pekerjaan, pasar juga menantikan rilis data inflasi AS untuk Januari 2025 yang akan diumumkan besok. Berdasarkan konsensus Trading Economics, Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Desember 2024 diperkirakan mencapai 3,2% year-on-year (yoy), turun dari bulan sebelumnya sebesar 3,4%.
Data inflasi ini dipantau ketat karena dapat memberikan sinyal terkait daya beli masyarakat AS sekaligus memengaruhi kebijakan suku bunga The Fed dalam pertemuan berikutnya.
Dengan tekanan dari sentimen global yang masih kuat, investor di pasar domestik perlu mencermati perkembangan data ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









