Usai data PDB RI, Pasar Perlu Cermati Pilpres AS
Demi Ermansyah | 5 November 2024, 16:24 WIB

AKURAT.CO Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus menyampaikan bahwa data pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan menjadi bantalan di tengah volatilitas pasar saham Indonesia saat ini.
Sebab, lanjutnya, sebentar lagi Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi atau atau besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia periode kuartal III-2024.
"Data pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi cushion di tengah tingginya volatilitas yang ada saat ini. Karena, kalau kita perhatikan saat ini tidak ada data ekonomi dalam negeri yang bisa diandalkan untuk menahan tekanan yang ada saat ini," ujar Nico saat dihubungi, Selasa (5/11/2024).
Menurutnya, apabila data pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di estimasi konsensus, maka hal tersebut akan mendorong katalis positif bagi perekonomian nasional.
"Apabila ternyata data pertumbuhan ekonomi keluar di atas estimasi, tentu hal ini akan mendorong katalis positif bagi perekonomian Indonesia, dan akan mendorong capital inflow (dana asing) untuk bisa masuk," ujar Nico.
Dalam kesempatan ini, Nico mengingatkan pelaku pasar untuk memperhatikan Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/11/2024) waktu setempat.
Menurutnya, hasil Pilpres AS akan berdampak terhadap ekonomi di tingkat global, termasuk Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Melihat data-data sebelumnya, Ia menyebut bahwa Pilpres AS akan selalu menaikkan volatilitas pasar saham di AS dan global.
"Yang menarik, apabila kita hitung rata rata dari tahun 1964 sampai 2020, setiap US Election berakhir, maka bursa Dow Jones mengalami kenaikan dalam kurun 1 tahun dengan rata rata kenaikan 9,3 persen. Hal ini tentu memberikan sentiment positive bagi pelaku pasar dan investor global, karena juga akan mendorong katalis positif bagi pasar global apalagi kalau yang menang merupakan calon favorit dari pasar," ujar Nico.
Ia menyebut bahwa volatilitas pasar saham akan lebih tinggi apabila Donald Trump memenangkan kontestasi demokrasi tersebut, dibandingkan Kamala Harris.
"Trump dengan kebijakan Make America Great Again, yang mana semua akan mengutamakan AS sebagai porosnya. Tidak salah memang, tapi memiliki dampak negatif bagi perekonomian global. Karena Trump tentu saja akan menjalankan kebijakan proteksionisme. Di satu sisi, Harris jauh lebih calm dan memiliki agenda sendiri seperti Joe Biden sebelumnya. Oleh sebab itu, secara volatilitas, akan jauh lebih tinggi apabila Trump yang menang dibandingkan dengan dengan Harris," ujar Nico.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 6Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 7Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 8Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo






