Bitcoin Diramal Anjlok Jelang Halving, Tenang, 3 Aset Kripto Ini Bakal Bull

AKURAT.CO Harga Bitcoin tampaknya tengah berada dalam fase stagnan, bergerak mendatar setelah mengalami penurunan pada hari Rabu (27/3/2024), terdampak oleh kekuatan dolar AS yang tercermin dalam tekanan indeks DXY. Selain itu, data terbaru menunjukkan perlambatan aliran modal ke pasar kripto, mencerminkan tumbuhnya kehati-hatian di kalangan investor.
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mencatat bahwa Bitcoin turun sekitar 2% pada hari Rabu, menyentuh level USD68.600. Ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Bitcoin melonjak di atas USD71.000, mendekati rekor tertingginya.
"Faktor pembatas bagi harga Bitcoin saat ini adalah kekuatan dolar AS. Penguatan greenback membatasi potensi kenaikan Bitcoin karena banyak trader masih memilih dolar AS mengingat ketidakpastian seputar suku bunga AS. Indeks dolar tetap berada di level tertinggi dalam sebulan terakhir," ungkap Fyqieh dikutip Kamis (28/3/2024).
Baca Juga: Bitcoin Hari Ini Nanjak 6,69 Persen ke USD71.062,1 per Koin
Menurut Fyqieh, sikap dovish baru-baru ini dari Swiss National Bank dan Bank of England menunjukkan preferensi pasar terhadap dolar AS sebagai mata uang dengan imbal hasil tinggi dan risiko rendah, setidaknya hingga kebijakan The Fed terkait suku bunga berubah.
Data PDB AS, yang merupakan tolok ukur inflasi bagi The Fed, diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut pada akhir pekan. Tanda-tanda inflasi yang kuat bisa mempengaruhi pandangan The Fed menjadi lebih hawkish, memungkinkan penundaan dalam pemangkasan suku bunga. Ini juga bisa memperburuk kondisi dolar AS dan memicu koreksi lebih lanjut.
Selain itu, pidato Ketua The Fed Jerome Powell dan anggota FOMC Mary Daly pada akhir pekan ini dapat memberikan wawasan tambahan tentang kebijakan suku bunga.
"Dengan prospek suku bunga AS yang lebih tinggi, para investor cenderung memilih dolar AS yang dianggap lebih aman daripada Bitcoin, terutama karena kripto seringkali terpengaruh oleh suku bunga yang tinggi. Kenaikan suku bunga hingga tahun 2022 telah menimbulkan kerugian besar bagi Bitcoin, mendorongnya turun hingga USD15.000 pada akhir tahun 2022," analisis Fyqieh.
Meskipun Bitcoin telah pulih hampir lima kali lipat dari posisi terendahnya pada tahun 2022, dan mencatat rekor tertinggi baru-baru ini di atas USD73.000, data terbaru menunjukkan perlambatan aliran modal ke ETF Bitcoin. Arus keluar berkelanjutan dari ETF Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) juga memberikan tekanan jual pada koin tersebut.
"Walaupun ETF Bitcoin mengalami arus masuk besar dalam beberapa minggu terakhir karena persetujuan ETF spot baru-baru ini, namun arus masuk ini melambat, terutama karena kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian suku bunga AS," jelas Fyqieh.
Namun, penurunan minat terhadap Bitcoin tidak seharusnya menjadi sinyal khawatir atau menunjukkan bahwa BTC akan diperdagangkan di bawah USD69.000. Ini kemungkinan mencerminkan kekhawatiran akan resesi ekonomi yang lebih luas, tekanan eksternal seperti tuduhan terhadap bursa KuCoin dan Coinbase oleh Departemen Kehakiman AS.
Dari segi analisis teknikal, Fyqieh memperkirakan bahwa Bitcoin mungkin akan turun ke kisaran USD68.000 sebelum kembali naik ke level tertinggi di sekitar USD73.000. Pergerakan ini akan mengikuti pola aset berisiko lainnya seiring dengan volatilitas yang diberikan oleh Dolar AS.
"Dengan semua data ekonomi AS telah tersedia, kemungkinan Bitcoin akan mengalami penurunan menjelang Halving di akhir April 2024. Ini karena kemungkinan adanya pola double top jika Bitcoin mencapai USD73.000, yang bisa menjadi pertanda koreksi dalam jangka menengah," tambahnya.
Meskipun demikian, level support yang kuat saat ini untuk Bitcoin tetap berada di sekitar USD60.000, yang kemungkinan tidak akan terlampaui kecuali ada sentimen negatif yang signifikan terhadap pasar kripto. Oleh karena itu, trader dan investor disarankan untuk menjaga modal mereka saat ini dan memanfaatkan potensi jangka panjang setelah momen Halving
Aset Berpotensi Bull
Sementara Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan pulihnya harga Bitcoin dan pasar kripto secara umum merupakan bagian dari dinamika pasar yang cukup dipengaruhi oleh pengambilan kebijakan suku bunga The Fed.
Fahmi menilai, investor yang memiliki target pertumbuhan nilai portofolio signifikan perlu memantau sejumlah proyek atau sektor yang potensial. Aset kripto pada sektor potensial biasanya membukukan tingkat kenaikan harga yang jauh lebih tinggi dari Bitcoin pada siklus-siklus sebelumnya, terlebih aset kripto dengan kapitalisasi pasar relatif masih kecil.
Sektor potensial dengan potensi pertumbuhan yang tinggi tersebut, menurut pengamatan
Reku berdasarkan perkembangan yang terjadi belakangan, di antaranya adalah sektor Real
World Asset (RWA), Artificial Intelligence (AI), dan Ekosistem Ordinal. Sektor-sektor
tersebut, terlepas dari tingkat risikonya, berpotensi tumbuh signifikan.
"RWA merupakan sektor kripto yang berfokus pada tokenisasi aset fisik seperti komoditas
dan properti melalui smart contract. Salah satu pertumbuhan pada sektor ini didorong oleh
adopsi institusional terhadap tokenized asset, seperti BlackRock, perusahaan manajer aset global yang juga meluncurkan ETF Bitcoin Spot, baru-baru ini mengumumkan akan memulai tokenisasi aset dengan merilis BlackRock USD Institutional Digital Liquidity Fund," ungkapnya.
Salah satu aset kripto di sektor RWA yang melonjak pasca pengumuman tersebut adalah
ONDO. Melansir CoinMarketCap, ONDO mencatatkan peningkatan hingga 76,8% dalam
sepekan di level Rp14.331 (Selasa, 27/3/2024 pukul 08.30 WIB).
Sektor selanjutnya yang memiliki prospek positif yakni Artificial Intelligence (AI). "Berkembangnya sektor AI ini didorong oleh partisipasi sejumlah perusahaan seperti NVIDIA
yang mengadopsi penerapan model AI. Keikutsertaan institusi global ini turut menggenjot
performa sektor AI. Seperti Render (RNDR) yang sempat mengalami kenaikan harga hingga
22,6 persen pasca konferensi tersebut dilangsungkan, begitu juga Bittensor (TAO) yang naik
11,6 persen, serta Fetch.AI (FET) yang terapresiasi 12 persen," kata Fahmi.
Ekosistem lain yang berpotensi masuk dalam deretan bull market adalah proyek-proyek
yang memanfaatkan teknologi ordinal. Teknologi ini merupakan salah satu perluasan utilitas
jaringan Bitcoin yang telah berhasil meningkatkan pendapatan jaringan secara signifikan.
"Hal ini telah berimbas pada meningkatnya biaya transaksi di jaringan Bitcoin untuk
mentransaksikan token-token dalam ekosistem ordinal. Menariknya, peningkatan adopsi
tersebut turut didukung oleh semakin tingginya hash power atau kekuatan komputasi yang
mengamankan blockchain Bitcoin. Sehingga hal ini dapat meningkatkan kredibilitas dari
proyek-proyek yang ada di ekosistem Bitcoin," jelas Fahmi.
Namun, tingginya biaya transaksi juga berpotensi membuat jaringan alternatif. "Di antaranya
seperti Dogecoin, misalnya dengan standar token DRC-20 yang memiliki biaya transaksi
lebih rendah, dapat turut diminati investor. Teknologi ordinal di jaringan Bitcoin telah banyak
dimanfaatkan oleh koin meme seperti RATS, SATS, ORDI, misalnya. Dengan Dogecoin
yang lebih identik dengan meme culture, DRC-20 berpotensi melahirkan proyek-proyek
bergenre meme inovatif yang mungkin akan menarik bagi para pelaku pasar," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










