Google Akui Tantangan Keamanan AI Masih Jadi Pekerjaan Besar

AKURAT.CO Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat perusahaan teknologi menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Bahkan Google mengakui proses adaptasi terhadap ancaman AI masih terus berlangsung hingga saat ini.
Chief Operating Officer Google Cloud, Francis de Souza, mengatakan keamanan tidak boleh diperlakukan sebagai tambahan setelah AI diterapkan. Ia menegaskan strategi AI harus dibangun bersama strategi data dan keamanan sejak awal.
"Saat perusahaan memulai perjalanan AI ini, mereka perlu mengambil pendekatan platform," ujarnya, dikutip dari TechCrunch, Senin (25/5/2026).
Ia juga menyoroti fenomena 'shadow AI' yang mulai banyak terjadi di perusahaan. Kondisi ini muncul ketika karyawan menggunakan layanan AI publik tanpa pengawasan organisasi.
Google juga menilai ancaman keamanan kini bergerak jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Waktu antara pelanggaran awal hingga serangan lanjutan kini disebut turun drastis dari delapan jam menjadi hanya 22 detik.
Selain jaringan perusahaan, area yang harus diamankan juga semakin luas. Model AI, data pelatihan, agen AI, hingga prompt kini menjadi bagian dari permukaan serangan baru.
Baca Juga: Google Diam-diam Rekrut Tim Startup AI Ini
"Selain perkebunan Anda yang biasa, Anda memiliki model sekarang. Anda memiliki jalur data yang digunakan untuk melatih model," kata de Souza.
Ancaman lain yang dianggap kurang mendapat perhatian adalah kemampuan agen AI menemukan data lama yang terlupakan. Server lama atau repositori data yang tidak lagi dipantau bisa kembali terekspos melalui aktivitas AI.
Untuk menghadapi ancaman yang bergerak sangat cepat, Google mendorong penggunaan sistem pertahanan berbasis AI otomatis. Dalam pendekatan ini, manusia hanya bertugas mengawasi, sementara AI menjalankan proses keamanan secara real-time.
Meski AI mulai banyak digunakan untuk pertahanan siber, industri masih kekurangan tenaga ahli keamanan AI. Chief Information Security Officer LinkedIn, Lea Kissner, mengatakan industri masih membutuhkan waktu panjang untuk memahami keamanan AI secara matang.
"Kita akan membutuhkan orang-orang untuk menangani bug-pocalypse," ujar Kissner. Dia memperkirakan dunia teknologi baru benar-benar memahami keamanan AI secara berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah peringatan soal keamanan AI, Google juga menghadapi sorotan terkait layanan cloud miliknya sendiri. Sejumlah pengembang Google Cloud dilaporkan menerima tagihan besar akibat penyalahgunaan API Gemini.
CEO Prentus, Rod Danan, menerima tagihan hingga US$10.138 hanya dalam 30 menit setelah API key miliknya diretas. Pengembang asal Sydney, Isuru Fonseka, juga mengalami tagihan sekitar AUD17.000 meski telah memasang batas pengeluaran akun.
Temuan firma keamanan Aikido memperumit situasi tersebut. Peneliti menemukan API key Google yang sudah dihapus masih bisa dipakai hingga 23 menit, memicu pertanyaan soal kesiapan platform AI menghadapi ancaman siber.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T






