AFTECH dan Jalin Soroti Ancaman Fraud Berbasis AI di Transaksi Digital

AKURAT.CO Transaksi digital di Indonesia terus meningkat seiring meluasnya penggunaan pembayaran elektronik. Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar pada kuartal I 2026 atau tumbuh 37,69 persen dibandingkan tahun lalu.
Di tengah pertumbuhan transaksi digital, ancaman kejahatan siber juga semakin meningkat. Pelaku fraud kini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan aksi yang lebih sulit dideteksi.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ada 5,2 miliar trafik internet sepanjang 2025 yang berpotensi menjadi jalur serangan siber. Sebanyak 94 persen di antaranya merupakan malware yang berisiko berkembang menjadi ransomware.
"Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital," ujar Budi Gandasoebrata selaku Wakil Ketua Umum II AFTECH, dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Budi, keamanan sistem dan ketahanan infrastruktur menjadi fondasi penting dalam ekosistem pembayaran digital. Ia menilai penguatan sistem deteksi fraud kini menjadi kebutuhan di tengah meningkatnya transaksi digital.
Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, menilai transaksi digital memunculkan tantangan baru bagi industri jasa keuangan. Ia menyebut penggunaan e-wallet dan QRIS meningkatkan risiko ancaman digital.
Tri mengatakan ketahanan terhadap fraud berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan. Ia menilai perlindungan konsumen membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, mengatakan ancaman pada pembayaran digital membutuhkan pendekatan keamanan kolektif. Menurut dia, model shared services dapat meningkatkan efisiensi dan memperkuat sistem keamanan.
"Model ini juga memberikan ruang bagi pelaku industri untuk tetap fokus pada pengembangan inti bisnis mereka, sementara fondasi keamanannya dikelola secara lebih profesional dan terkoordinasi," pungkas Ario.
AFTECH dan Jalin menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat keamanan transaksi digital. Upaya tersebut dinilai penting guna menjaga kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem keuangan digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








